Content: / /

Sejarah Kampung Bebek-an Kabuaran - Lumajang

Wong Majang

25 September 2018
Sejarah Kampung  Bebek-an Kabuaran - Lumajang

Saat Wawancara dengan Salah Satu Warga Kabuaran terkait Kampung Bebek an (Foto By: Indana)

Kunir (Lumajangsatu.com) - Hampir setiap orang yang tinggal di Desa Kabuaran dipastikan mengenal Bebek-bebek an . Terlepas dari segala bentuk kontroversinya selama ini, kawasan tersebut sebetulnya punya nilai sejarah yang kuat.

Bahkan masih banyak orang yang belum mengetahui asal-usulnya secara jelas karena terlalu melihat persoalannya dari sisi moral semata.
Membuka sedikit lembaran kisah mengenai kawasan ini, kita mungkin bisa mengenal sejarahnya.

Konon, asal muasal nama Bebek-bebekan ini adalah tempat kandang bebek,  tempat ini dihuni oleh seorang pendatang dan dijadikan tempat usaha ternak bebek, tanah itu milik Almarhum H. Ngasimun.

kabuaran

Mengingat banyaknya serdadu atau warga luar kabuaran yang bermukim dan membutuhkan sarana pelampiasan birahi, anak dari Almarhum H. Ngasimun mengelola tempat ini untuk menyediakan layanan tersebut. Kira-kira pada tahun 1974, kawasan ini dikenal sebagai pusat lokalisasi oleh Masyarakat. Lalu tahun demi tahun, berkembanglah lokalisasi ini di kawasan Bebek-bebekan.

Tapi ada versi lain yang menyebutkan asal lokalisasi ini. Konon, dari seorang perempuan hitam manis yang cantik dan bernama Nyonya Sumana. Meskipun ada perbedaan asal-usulnya, secara umum namanya memang berasal dari seorang perempuan yang mengawali.

Entah benar atau tidak, faktanya kawasan ini sudah berdiri jauh dan terus tumbuh berkembang antar generasi hingga saat ini.

Sebagai warga di kawasan tersebut yang berhasil ditemu bertutur. Sepengetahuannya, area prostitusi itu berdiri sejak Kades P. Sawal dan sudah mendapatkan 5 periode pergantian kades. bebek_an

 

“Wah, sudah lama sekali, sejak saya belum lahir juga sudah mulai dibuka,” kata Suparti warga kabuaran

Konon, kata Dia, tempat tersebut dijadikan lokalisasi bagi para serdadu . Para PSK kala itu berjejer, dipajang dengan menggunakan kebaya di setiap rumah. Kebanyakan PSK tersebut didatangkan dari luar desa-desa dengan cara ditipu atau dipaksa, meski ada pula yang menawarkan diri secara terang-terangan.

"Memang tanah ini milik Almarhum H. Ngasimun yang aslinya orang Karangbendo, tetapi bukan beliau yang mengelola, kemungkinan dari anak-anaknya" Kata Solikin Kades Kabuaran.

Terlepas dari pro-kontra penutupan lokalisasi tersebut tidak dapat kita pungkiri jika dunia Prostitusi berada di sekitar kita.(Ind/red)


Tinggalkan Komentar

Facebook

Twitter

Redaksi