Content: / /

Tak Hanya Maling Sapi, Krisis Air Bersih Jadi Musibah Warga Ranuyoso

Peristiwa

02 September 2017
Tak Hanya Maling Sapi, Krisis Air Bersih Jadi Musibah Warga Ranuyoso

Sejumlah warga sedang berburu air bersih disungai yang mengering di Ranuyoso-Lumajang

Lumajang (lumajangsatu.com) - Tak hanya maling sapi, kekeirngan yang berimbas pada krisis air bersih saat ini melanda warga di Kecamtan Ranuyoso. Hampir setiap sore, warga di Dusun Krajan Desa Penawungan mendatangi sungai mati yakni sungai Kedawung dan Berdebung untuk mencari air.

Untuk mencapi lokasi, warga harus berjalan sekitar 30 menit demi air bersih. Air yang berwarna biru kemudian digali disekitarnya agar air menjadi jernih kemduian dimasukkan kedalam wadah (dirigen).

Sebenarnya, air yang diambil sangat tidak layak untuk dikonsumsi, tapi apa boleh buat tidak ada pilihan lain. Air yang ada di sungai yang mati marupakan sisa air hujan yang menggenang.

"Kalau saya setelah pulang sekola ambil air kesini ini sisa air hujan dari musim hujan itu, kali yang sudah mati," ujar Misto, Sabtu (02/09/2017).

Rudi Hartono, salah seorang warga Wates Wetan mengaku jika kondisi kekeringan sangat parah. Bagi warga yang memiliki uang, biasanya membeli air dari mobil tangki dengan harga 150-250 ribu tergantung dari jauh dekat jarak yang ditempuh.

"Bagi yang punya uang beli air dari mobil tangki mas, kadang beli menggunkan dirigen dengan harga 500 rupiah. Jika ditotal sebulan ya habis 225 ribu untuk beli air saja," pungkasnya.

Sementara itu, Badan Penanggulngan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang sudah melakukan droping air bersih. Namun, dengan luasnya area kris air bersih, sehingga tidak bisa mencukupi kebutuhan air bersih bagi warga.

"Untuk se-Kabupaten Lumajang ada 6 Kecamatan, 17 desa dan 38 Dusun daerah kekeringan. Itu kita droping 2 hari sekali dengan 3 unit mobil tangki yang per tangki berkapasitas 5000 liter," jelas Wawan Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lumajang.(Yd/red)

Tinggalkan Komentar

Facebook

Twitter

Redaksi