Persiapan Kemarau Panjang

BPBD Lumajang Siapkan Status Siaga Kemarau, Armada Air Mulai Disiagakan

Reporter : Indana Zulfa
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang, Yudi Cahyono saat ditemui di ruang kerjanya

Lumajang — Ancaman kekeringan kembali menjadi perhatian serius di Lumajang. Mengacu pada rilis BMKG untuk tahun 2026, wilayah ini berpotensi menghadapi kekeringan jangka panjang akibat fenomena El Niño.

 

Baca juga: Patroli Dini Hari, Polsek Randuagung Sapu Bersih Jalur Rawan Kejahatan Jalanan dan 3C

Data sebelumnya mencatat, pada tahun 2024 kekeringan melanda 9 kecamatan, 26 desa, dan 288 titik. Sementara itu, pada tahun 2025 kondisi relatif aman tanpa krisis signifikan. Namun, sejumlah wilayah seperti Ranuyoso, Senduro, dan Gucialit tercatat sebagai daerah yang hampir setiap tahun berpotensi mengalami kekeringan.

 

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono, mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk armada distribusi air bersih.

 

“Untuk armada tangki di BPBD sendiri saat ini ada lima unit dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter,” ujarnya Senin, (27/4/2026).

 

Selain armada yang tersedia, BPBD juga membuka opsi penambahan melalui penyewaan jika jumlah titik terdampak meningkat. Distribusi air bersih akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Baca juga: Dukung Asta Cita, Polsek Padang Gerakkan Warga Sulap Pekarangan Jadi Sumber Pangan Bergizi

 

“Kalau ada penambahan titik dropping air, kami juga akan menyewa armada dari luar untuk mempercepat distribusi,” lanjutnya.

 

Pemerintah daerah juga tengah menyiapkan Surat Keputusan (SK) Siaga Kemarau sebagai dasar penetapan status darurat kekeringan. Dokumen tersebut akan membuka akses penggunaan anggaran khusus untuk penanganan dampak kekeringan.

Baca juga: Bupati Lumajang: SDM Unggul Jadi Kunci Hadapi Tantangan Zaman

 

“Draft SK siaga kemarau sudah kami siapkan. Setelah ditandatangani Bupati, itu akan menjadi dasar penetapan darurat kekeringan dan penggunaan anggaran yang sudah direncanakan,” jelas Yudhi.

 

Langkah ini menjadi bagian dari strategi mitigasi dini agar dampak kekeringan, khususnya terhadap kebutuhan air bersih masyarakat, dapat ditekan seminimal mungkin di tengah ancaman musim kemarau panjang (Red).

Editor : Redaksi

Politik dan Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru