LUMAJANG – Duka mendalam kembali menyelimuti Kabupaten Lumajang. Bencana tanah longsor yang terjadi di Dusun Jonggrang, Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, merenggut dua korban jiwa. Dua warga bernama Imron dan Hilya meninggal dunia setelah rumah yang mereka tempati tertimbun material longsoran yang menerjang kawasan permukiman.
Baca juga: Kapolres Lumajang: Anggota yang Ditabrak Pelajar Pilih Memaafkan, Kedepankan Sisi Humanis Polri
Peristiwa memilukan tersebut terjadi di RT 22/RW 08 Dusun Jonggrang. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut diduga menjadi pemicu terjadinya longsor. Tebing yang berada di atas permukiman warga tiba-tiba mengalami longsor hingga material tanah meluncur ke bawah dan menghantam bangunan rumah milik Pak Wardi.
Namun, bencana tidak berhenti sampai di situ. Material longsoran yang terus bergerak kemudian menimpa rumah milik Imron yang berada tepat di bawahnya. Rumah tersebut tertimbun material tanah, menyebabkan dua orang yang berada di dalamnya menjadi korban dalam peristiwa tragis tersebut.
Dalam sekejap, suasana yang semula tenang berubah menjadi kepanikan. Warga sekitar dibuat geger oleh kejadian tersebut. Ancaman longsor yang datang dari kawasan perbukitan kembali menunjukkan betapa besarnya risiko yang dihadapi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana.
Dua korban yang meninggal dunia diketahui bernama Imron dan Hilya. Keduanya menjadi korban dalam bencana yang kembali menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga, kerabat, serta masyarakat sekitar.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, membenarkan adanya peristiwa tanah longsor yang menelan korban jiwa tersebut saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Baca juga: 12 Pelajar SMP Terjaring Penertiban, Satlantas Lumajang Ingatkan Bahaya Berkendara di Bawah Umur
“Terjadi musibah longsor di Dusun Jonggrang RT 22 RW 08, rumah Pak Wardi menimpa rumah saudara Imron. Adapun korban meninggal ada dua orang, Imron dan Hilya,” ungkap Isnugroho.
Ia menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu, terutama curah hujan tinggi, dapat menyebabkan kondisi tanah di kawasan perbukitan menjadi labil. Situasi tersebut meningkatkan potensi terjadinya pergerakan tanah yang bisa mengancam keselamatan warga, khususnya mereka yang bermukim di bawah tebing maupun lereng perbukitan.
Sementara itu, informasi dari Kepala Dusun (Kasun) Jonggrang menyebutkan bahwa kedua korban telah berhasil dievakuasi. Proses evakuasi dilakukan secara mandiri oleh warga setempat yang berupaya membantu setelah mengetahui adanya musibah tersebut.
“Informasi dari Kasun, korban jiwa sudah dievakuasi mandiri oleh warga dan akan segera dimakamkan,” jelas Isnugroho.
Baca juga: Lepas Atlet POPDA dan PEPARPEDA 2026, Bunda Indah Tantang Lumajang Raih 10 Medali Emas
Saat ini, jenazah kedua korban telah berada di rumah duka. Pihak keluarga bersama warga sekitar tengah mempersiapkan proses pemakaman. Suasana duka pun menyelimuti lingkungan tempat tinggal korban. Kepergian Imron dan Hilya menjadi kehilangan besar bagi keluarga yang ditinggalkan.
Tragedi ini kembali membuka mata bahwa ancaman bencana tanah longsor di wilayah Kabupaten Lumajang, khususnya kawasan Pronojiwo, tidak boleh dianggap remeh. Curah hujan tinggi yang berlangsung dalam waktu tertentu dapat membuat tanah kehilangan kestabilannya. Tebing yang terlihat kokoh sekalipun bisa sewaktu-waktu runtuh dan membawa material tanah ke kawasan permukiman.
Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng, tebing, serta kawasan perbukitan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan deras mengguyur wilayah mereka. Retakan tanah, pohon atau tiang yang mulai miring, munculnya rembesan air dari lereng, hingga suara gemuruh dari arah tebing patut diwaspadai sebagai tanda potensi pergerakan tanah.
Warga juga diharapkan segera menjauh dari lokasi yang menunjukkan tanda-tanda longsor dan mengikuti arahan petugas maupun aparat setempat apabila kondisi dinilai membahayakan.
Dua warga telah menjadi korban. Dua nyawa melayang akibat ganasnya bencana alam. Tragedi di Dusun Jonggrang ini bukan sekadar kabar duka, tetapi juga peringatan keras bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama di tengah ancaman cuaca ekstrem (Red).
Editor : Redaksi