Lumajang – Ancaman bencana hidrometeorologi mulai menjadi perhatian serius seiring peralihan musim kemarau menuju musim hujan. Tragedi longsor di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, yang menewaskan seorang ayah dan anaknya, menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengingatkan masyarakat agar tidak lengah menghadapi masa peralihan musim. Imbauan tersebut disampaikan saat mengunjungi rumah duka korban longsor bersama Bupati Lumajang, Indah Amperawati, Senin (2/11/2026).
Menurut Khofifah, masa pancaroba memiliki tantangan tersendiri. Di sejumlah wilayah, persoalan kekeringan dan keterbatasan air masih berlangsung, sementara hujan mulai turun di beberapa daerah. Kondisi tersebut membutuhkan kesiapsiagaan secara bersamaan dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
“Kewaspadaan masyarakat terhadap bencana itu harus dilakukan berlapis. Jadi, pada saat musim kemarau belum semua selesai, memang sudah harus dilakukan antisipasi menghadapi musim hujan yang sudah terjadi di beberapa daerah,” ujarnya.
Khofifah menekankan pentingnya langkah antisipasi sejak dini agar masyarakat memiliki kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan bencana akibat perubahan cuaca. Pemantauan kondisi lingkungan, peningkatan kewaspadaan, serta koordinasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana.
Senada dengan itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati mengingatkan masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan rawan longsor, agar lebih memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Warga yang bermukim di lereng dengan kondisi tanah tidak stabil diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Longsor di Desa Tamanayu terjadi pada Sabtu (31/10/2026) dini hari. Tebing setinggi sekitar 10 meter yang berada di atas rumah warga runtuh dan menimpa bangunan tempat Imron Rosadi (40) bersama putrinya, Hilyatuz Zaskia (9), sedang beristirahat. Keduanya meninggal dunia akibat tertimbun material longsor.
Peristiwa tragis tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa ancaman longsor dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama di kawasan dengan kondisi tanah yang rentan ketika diguyur hujan.
Baca juga: Bupati Lumajang Pastikan Warga Sekitar Aliran Lahar Semeru Aman, Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengenali tanda-tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya retakan pada tanah atau bangunan, pohon yang mulai miring, serta perubahan kondisi lereng. Jika ditemukan indikasi bahaya, warga diminta segera menjauh dari lokasi dan melaporkannya kepada petugas.
Kewaspadaan tidak cukup hanya dilakukan ketika bencana terjadi. Antisipasi sejak dini, kepedulian terhadap kondisi lingkungan, dan kesiapan masyarakat menjadi langkah penting untuk mencegah jatuhnya korban jiwa di tengah meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi (Red).
Editor : Redaksi