Wisata Tumbuh, Harapan Menguat: Lumajang Susun Masa Depan Berbasis Data
Lumajang — Lonjakan kunjungan wisata pada awal 2026 menjadi alarm sekaligus peluang bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang. Di tengah euforia 476.062 wisatawan pada Triwulan I melampaui target 450 ribu muncul tekanan baru: memastikan pertumbuhan ini tidak berhenti sebagai statistik, tetapi benar-benar mengalir ke ekonomi masyarakat.
Data menunjukkan dominasi wisatawan nusantara mencapai 460.036 kunjungan, sementara wisatawan mancanegara menyumbang 16.026 kunjungan. Angka ini mengindikasikan geliat sektor pariwisata yang terus menguat, namun sekaligus membuka pertanyaan mendasar tentang kualitas pengelolaan dan pemerataan dampaknya.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menegaskan bahwa fase pariwisata berbasis insting harus segera diakhiri. Pemerintah kini mendorong pendekatan berbasis data melalui integrasi program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) dan Sensus Ekonomi 2026.
“Pariwisata tidak boleh lagi dikelola dengan asumsi. Harus berbasis data agar tepat sasaran dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Secara spasial, distribusi kunjungan masih terkonsentrasi pada destinasi tertentu. Pantai Watu Pecak mencatat 103.075 kunjungan, disusul Tumpak Selo dengan 95.305 kunjungan. Pemandian Alam Selokambang dan Tirtosari masing-masing mencatat 45.871 dan 38.484 kunjungan.
Sementara itu, Air Terjun Tumpak Sewu menjadi episentrum wisata mancanegara. Dari total 25.821 kunjungan, sebanyak 15.908 berasal dari wisatawan internasional. Fakta ini menegaskan bahwa pasar global mulai terbentuk, meski masih terpusat pada sedikit destinasi unggulan.
Dari sisi waktu, tren kunjungan memperlihatkan akselerasi tajam. Januari mencatat 132.244 kunjungan, Februari sempat turun ke 60.992, sebelum melonjak drastis pada Maret menjadi 282.826 kunjungan. Lonjakan ini dinilai sebagai dampak mulai efektifnya promosi dan meningkatnya daya tarik destinasi.
Namun, di balik angka impresif tersebut, pemerintah melihat adanya tantangan struktural: ketimpangan sebaran kunjungan, kesiapan pelaku usaha, serta kualitas infrastruktur pendukung.
Melalui program Desa Cantik, penguatan data mikro dilakukan hingga tingkat desa mencakup potensi wisata, kapasitas UMKM, hingga kesiapan layanan. Di sisi lain, Sensus Ekonomi 2026 akan melengkapi gambaran makro terkait kontribusi sektor pariwisata terhadap ekonomi daerah.
Kombinasi dua instrumen ini menjadi fondasi bagi kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy), termasuk dalam memperluas distribusi wisatawan, memperkuat UMKM, dan meningkatkan kualitas layanan.
“Dengan data yang kuat, kita tidak lagi meraba-raba. Kita tahu di mana potensi dan apa yang harus diintervensi,” ujar Bunda Indah.
Pemerintah menargetkan transformasi pariwisata yang tidak hanya bertumpu pada lonjakan kunjungan, tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Di tengah persaingan destinasi dan perubahan perilaku wisatawan, Lumajang kini memasuki fase krusial: dari sekadar ramai, menuju pariwisata yang terukur, terarah, dan benar-benar berdampak (Red).
Editor : Redaksi