P2P
Anak Alami Gangguan Pernapasan, Dinkes Lumajang Minta Orang Tua Kenali Tanda Bahaya
Lumajang– Gangguan pernapasan pada anak perlu mendapat perhatian serius dari orang tua. Perubahan kondisi seperti napas cepat atau kesulitan bernapas, demam tinggi yang tak kunjung membaik, hingga anak tampak lemas dapat menjadi tanda perlunya pemeriksaan oleh tenaga kesehatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Lumajang, Dr. Marshall Trihandono, mengimbau orang tua tidak menunggu kondisi anak semakin berat sebelum mencari pertolongan.
“Jika anak menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan atau kondisinya semakin memburuk, jangan menunda untuk mendapatkan pemeriksaan. Segera manfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan agar kondisi anak dapat dinilai dan ditangani sesuai kebutuhannya,” ujar Marshall, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, sejumlah perubahan kondisi perlu menjadi perhatian orang tua. Selain napas yang terlihat cepat atau mengalami kesulitan, demam tinggi yang tidak kunjung membaik, anak tampak lemas, serta berkurangnya keinginan untuk makan atau minum juga perlu diperhatikan.
Namun, tanda-tanda tersebut tidak dimaksudkan sebagai dasar bagi orang tua untuk melakukan diagnosis sendiri. Perubahan kondisi yang mengkhawatirkan sebaiknya menjadi alasan untuk membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan agar mendapatkan pemeriksaan.
Orang tua memiliki peran penting karena merupakan pihak yang paling dekat dengan anak. Perubahan perilaku, aktivitas, pola makan dan minum, maupun kondisi pernapasan biasanya lebih mudah dikenali ketika dibandingkan dengan kondisi anak sehari-hari.
Karena itu, orang tua tidak perlu menunggu hingga anak terlihat sangat lemah. Ketika keluhan menetap atau kondisi justru semakin memburuk, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu mengetahui kondisi anak dan menentukan penanganan sesuai kebutuhan.
Selain kewaspadaan terhadap tanda gangguan kesehatan, keluarga juga dapat melakukan berbagai langkah sederhana untuk menjaga kesehatan saluran pernapasan anak.
Perilaku hidup bersih dan sehat perlu dibiasakan, termasuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan tempat tinggal. Asupan makanan dan minuman yang cukup sesuai kebutuhan anak juga perlu diperhatikan.
Lingkungan bebas asap rokok menjadi bagian penting lainnya. Keluarga diimbau tidak membiarkan anak terpapar asap rokok yang dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan.
Kebersihan tangan serta etika batuk dan bersin juga perlu dikenalkan sejak dini. Kebiasaan tersebut tidak hanya membantu menjaga kesehatan anak, tetapi juga membangun kesadaran untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan.
Marshall menekankan masyarakat tidak perlu panik menghadapi informasi mengenai penyakit pernapasan. Kuncinya adalah tetap waspada dan mengambil tindakan yang tepat ketika terdapat perubahan kondisi kesehatan.
Dalam menghadapi keluhan pada anak, kewaspadaan bukan berarti mencemaskan setiap gejala. Orang tua perlu memperhatikan apakah keluhan menetap, kondisi memburuk, atau muncul tanda yang mengkhawatirkan.
Jika membutuhkan pemeriksaan, fasilitas pelayanan kesehatan menjadi tempat untuk mendapatkan penilaian dan penanganan dari tenaga kesehatan. Dengan demikian, kondisi anak dapat dinilai berdasarkan pemeriksaan, bukan semata-mata perkiraan keluarga.
Menjaga kesehatan anak pada akhirnya dimulai dari rumah. Keluarga berperan mengenali perubahan kondisi, menjaga lingkungan tetap sehat, mencegah paparan yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan, serta segera mencari pemeriksaan ketika kondisi anak membutuhkan penanganan (Red).
Editor : Redaksi