Lumajang - Peristiwa dalam kehidupan yang sangat berat seperti bencana alam berdampak sangat besar pada psikologis remaja. Banyak perubahan yang terjadi pascabencana yang membuat remaja harus beradaptasi dengan lingkungan pascabencana.
Belum lagi ketika mereka harus kehilangan tempat tinggal, sekolah, dan keluarga. Hal ini membuat mereka tidak nyaman dan harus menyesuaikan diri dari waktu ke waktu.
Baca juga: Oktafiyani Pimpin Pelantikan PAW Anggota DPRD Lumajang, Sofiana Yunita Resmi Gantikan Almarhum Amin
Ketua Tim Dukungan Psikososial Pengungsi Erupsi Gunung Semeru Kombes Pol Handoko SIK M,Si mengatakan bahwa selama kegiatan trauma healing ini dilakukan ada remaja yang mengalami trauma langsung, paling besar gangguan emosionalnya. Meski tidak signifikan, tapi ini menunjukkan bahwa remaja bereaksi berbeda terhadap peristiwa besar seperti bencana alam.
Baca juga: Satlantas Lumajang Gandeng Pocil , 500 Takjil Ludes Dibagikan di Depan Mapolres
"Kami menemukan bahwa separuh dari remaja tersebut mengalami masalah emosi dan perilaku" kata dia, Sabtu (18/12/2021).
Menurut dia, pemulihan stres bagi korban bencana harus cepat dilakukan agar kondisi psikologis korban tidak makin parah. Tujuan Utama diadakannya bantuan berupa trauma healing tersebut diberikan kepada anak-anak dengan mengajak belajar serta bermain agar para pengungsi anak-anak akibat erupsi Gunung Semeru dapat kembali tersenyum dalam situasi tersebut.
Baca juga: Kapolres Lumajang Salurkan Santunan untuk 1.000 Anak Yatim di Pendopo Aryawiraraja
"Kami libatkan polwan sebagai konselor pemulihan trauma amat tepat, terutama karakter wanita yang cenderung komunikatif dan mudah mudah berempati pada korban terutama anak-anak," tutupnya.(Ind/yd/red)
Editor : Redaksi