Lumajang - Memasuki kemarau atau musim kering, akan muncul fenomena unik di daerah Desa Ranupani Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang. Saat suhu sampai minus, maka akan muncul fenomena bunga es (frost) atau warga sekitar menyebut embun upas.
Embun upas berasal tetesan embun yang berada di pucuk-pucuk rerumputan yang membeku karena suhu yang sangat dingin sampai minus. Fenomena itu akan muncul saat pagi hari dan akan menghilang seiring munculnya sinar matahari yang melelehkan embun upas.
Baca juga: Terungkap, Orang Tua Bayi yang Dibuang di Senduro Menyerahkan Diri, Motif Diduga Faktor Ekonomi
Fenomena tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi seperti berada di dalam kulkas berukuran besar. Biasanya, saat mulai muncul fenomena tersebut akan banyak wisatawan yang datang untuk merasakan dinginnya alam Ranupani.
Baca juga: Anggota Polres Lumajang Evakuasi Bayi yang Ditemukan di Warung Dekat Jembatan Curah Kebo
Namun, fenomena tersebut tidak dipastikan muncul, karena tergantung pada cuaca. Jika suhu tidak dingin, maka embun upas tidak akan muncul. “Sekarang masih belum mas, biasanya akan muncul pada puncak musim kemarau antara Juli sampai dengan Agustus,” ujar Faizin, salah seorang warga Ranupani kepada Lumajangsatu.com, Rabu (31/05/2023).
Meski menjadi daya tarik wisata, munculnya embun upas juga berdampak tidak baik bagi pertanian di Ranupani. Pasalnya, embun upas dalam sekejap bisa membuat tanaman kentang milik petani mati mengering. Saat muncul embun upas, saat pagi hari para petani akan menyemprot tanaman kentang dengan air, agar embun upas segera meleleh dan tak sampai tanaman kentang petani mati.
Baca juga: Dapur MBG Direncanakan di Area Stadion Lumajang, Lokasi Dekat Saluran Pembuangan Disorot
“Memang jadi daya tarik bagi wisatawan mas, tapi bagi para petani kemunculan embun upas bisa menjadi musibah, karena bisa mengakibatkan tanaman kentang mati mengering,” pungkasnya.(Yd/red)
Editor : Redaksi