Warisan Budaya
Dosen Unisya Teliti Warisan Budaya Pencak Sholat Lumajang, Raih Award Kementerian Kebudayaan
Lumajang — Seorang dosen Universitas Islam Syarifuddin (Unisya) Lumajang yang juga kandidat doktor Studi Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya, Bambang Subahri, tengah melakukan riset mendalam tentang warisan budaya lokal bertajuk “PENCAK SHOLAT: Integrasi Seni Beladiri dan Spiritualitas Masyarakat Pandalungan.”
Riset tersebut mendapatkan apresiasi berupa award dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dalam kategori Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro.
Penelitian ini masih berada dalam proses pengembangan dan pendalaman data lapangan.
Bambang menelusuri praktik Pencak Sholat sebagai tradisi yang memadukan unsur seni bela diri dengan dimensi spiritualitas Islam yang hidup dan berkembang di masyarakat Pandalungan.
Menurut Bambang, penelitian ini dilatarbelakangi oleh kegelisahan akademik sekaligus kultural terhadap keberadaan tradisi lokal yang semakin terdesak oleh arus modernisasi.
"Saya ingin mengungkap warisan budaya yang bisa dikatakan rawan punah atau dilupakan masyarakat akibat kemajuan zaman," ungkap alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton tersebut.
Dalam proses risetnya, ia melakukan dokumentasi terhadap pengetahuan para maestro, praktik gerakan, nilai filosofis, serta konstruksi sosial yang melingkupi tradisi Pencak Sholat.
Pendekatan yang digunakan memadukan perspektif studi Islam, antropologi budaya, dan kajian spiritualitas masyarakat lokal. Bambang menjelaskan bahwa Pencak Sholat memiliki makna yang berbeda dari pencak silat pada umumnya.
Jika pencak silat identik dengan teknik pertahanan diri melawan pihak lain, maka Pencak Sholat lebih menekankan pada dimensi pengendalian diri dan penyucian batin.
“Pencak Sholat bermakna filosofis. Ketika pencak silat melawan orang lain, maka pencak sholat melawan diri sendiri. Sehingga ini tidak sekedar olah raga melainkan juga persoalan olah rasa yang memiliki nilai spiritualitas yang tinggi,” tutur lelaki asal Ranuyoso tersebut.
Ia menilai bahwa tradisi ini merupakan bentuk integrasi unik antara seni, gerak tubuh, dan laku spiritual yang mencerminkan kekhasan Islam Nusantara dalam konteks masyarakat Pandalungan.
Melalui penelitian yang sedang berjalan ini, Bambang berharap dapat memperkuat dokumentasi akademik sekaligus mendorong pelestarian tradisi yang sarat nilai pendidikan karakter dan spiritualitas tersebut.
Award dari Kementerian Kebudayaan menjadi bentuk pengakuan awal atas pentingnya dokumentasi pengetahuan maestro sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya takbenda.
Ke depan, hasil riset ini direncanakan akan dipublikasikan dalam bentuk karya ilmiah dan dokumentasi budaya yang lebih komprehensif. (har/red)
Editor : Redaksi