Lumajang - Dalam rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) STKIP PGRI Lumajang Tahun 2026, mahasiswa baru mendapatkan pembekalan melalui Seminar Sociopreneur yang menghadirkan Fauzi Anwar, S.Pd. sebagai narasumber. Seminar ini menjadi salah satu kegiatan yang dirancang untuk menumbuhkan pola pikir kewirausahaan, kreativitas, kemandirian, serta kemampuan mahasiswa dalam melihat peluang usaha di tengah perkembangan teknologi dan ekonomi digital.
Sebagai seorang praktisi usaha di bidang advertising dan digital sociopreneur, Fauzi Anwar membagikan pengalaman praktis mengenai bagaimana sebuah usaha dapat dirintis, dikembangkan, dipasarkan, dan dievaluasi secara terukur. Materi yang disampaikan tidak hanya membahas kewirausahaan secara konseptual, tetapi juga memberikan gambaran nyata tentang pengelolaan bisnis dan pemasaran di era digital.
Baca juga: Diduga Jambret di Salon Klakah, Pria Dimassa Warga, Motor Dibakar
Dalam pemaparannya, narasumber mengawali materi dengan menjelaskan delapan karakter penting yang perlu dimiliki seorang entrepreneur, yaitu jujur dan bertanggung jawab, percaya diri, berani mengambil risiko, kreatif dan inovatif, pantang menyerah, memiliki kemauan untuk terus belajar, mampu melihat peluang, serta mampu mengelola keuangan atau modal.
Delapan karakter tersebut menjadi fondasi penting bagi mahasiswa apabila ingin mulai mengembangkan kegiatan kewirausahaan. Menjadi entrepreneur, menurut materi seminar, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menjual produk. Lebih dari itu, diperlukan karakter yang kuat, keberanian mencoba, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan untuk terus melakukan pembelajaran dan perbaikan.
Materi selanjutnya membahas empat pilar utama dalam membangun bisnis, yaitu Sumber Daya Manusia (SDM), produk, marketing, dan manajemen keuangan. Keempat aspek tersebut harus dikelola secara seimbang. Produk yang baik akan sulit berkembang tanpa strategi pemasaran yang tepat, demikian pula kegiatan pemasaran tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak didukung pengelolaan SDM dan keuangan yang baik.
Salah satu bagian yang mendapat perhatian khusus dalam seminar adalah pembahasan mengenai marketing. Mahasiswa diajak memahami bahwa kegiatan pemasaran harus dimulai dengan mengetahui alasan konsumen membeli suatu produk. Sebuah produk perlu memiliki value atau nilai serta keunggulan yang jelas, sehingga konsumen memiliki alasan untuk memilih produk tersebut dibandingkan produk lainnya.
Baca juga: 11 Tahun Al Muhajir: Sekolah Desa, Prestasi Nasional
Selain menentukan nilai dan keunggulan produk, pelaku usaha juga perlu memilih media pemasaran yang sesuai dengan target market. Dalam materi dijelaskan dua kelompok media pemasaran, yakni media konvensional dan media digital. Media konvensional dapat berupa pengumuman, flyer, brosur, banner, dan radio. Sementara itu, pemasaran digital dapat memanfaatkan Google, Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, website, WhatsApp, dan berbagai platform digital lainnya.
Hal penting yang ditekankan adalah bahwa pelaku usaha tidak cukup hanya menggunakan sebanyak mungkin media promosi. Setiap strategi harus melalui proses tes dan ukur atau riset untuk mengetahui media mana yang benar-benar paling efektif dalam menjangkau konsumen. Pendekatan berbasis data inilah yang menjadi salah satu benang merah dalam materi seminar. PPT secara khusus menampilkan bagian “Hasil Tes dan Ukur (Riset)” sebagai tahapan penting dalam pemasaran.
Seminar semakin menarik ketika peserta diperkenalkan dengan simulasi marketing dan praktik pemasaran secara digital. Materi tidak berhenti pada konsep, tetapi diarahkan pada bagaimana strategi pemasaran diterapkan dalam aktivitas bisnis yang sebenarnya. Bagian mengenai simulasi marketing menjadi salah satu pokok materi dalam presentasi.
Baca juga: Ramp Check 37 Bus di Terminal Menak Koncar, Lima Kendaraan Dinyatakan Tak Layak Uji
Melalui Seminar Sociopreneur dalam rangka PKKMB 2026 ini, mahasiswa baru diharapkan tidak hanya mengenal kehidupan akademik di perguruan tinggi, tetapi juga mulai membangun pola pikir sebagai generasi yang mandiri, kreatif, inovatif, adaptif, dan mampu menciptakan peluang.
Seminar ini sekaligus memberikan pesan bahwa keberhasilan dalam dunia usaha tidak diperoleh secara instan. Dibutuhkan keberanian untuk memulai, kemauan untuk belajar, kemampuan melakukan riset, kesiapan mengevaluasi kegagalan, serta konsistensi dalam melakukan perbaikan (Red).
Editor : Redaksi