Lumajang(lumajangsatu.com) - Aksi Mahasiswa Institut Agama Islam Syariefudin (IAIS) yang mengelar aksi demo di DPRD dan hendak ke Pemkab untuk aksi lanjut dihadang oleh Wakil Rektor I, Satuyar. Akibatnya, sejumlah mahasiswa mengecam aksi Dosennya yang tidak mendukung gerakan mengenai peristiwa publik menjadi sorotan nasional hingga di meja presiden.
"Saya amat sayangkan, kita yang melakukan aksi gerakan sesuai ilmu yang didapat di kuliah, ini aneh dosen kok melarang," ujar Muslimin Ghozali korlap aksi Republik Mahasiswa IAIS.
Baca juga: Dari Lumajang untuk Cina: Cara Darrel Mengenalkan Pesona Tumpak Sewu ke Dunia
"Kemarin itu, sudah diijinkan oleh Rektor, ini kok ada sabotase dari Warek I, ada apa ini, kayaknya ada unsur politik," ungkap Saiful Anwar, Mahasiswa IANS lainya.
Baca juga: Kemkomdigi Ajak Pemuda Lumajang Jadi Duta Digital Lawan Hoaks
Hal ini juga diakui mantan Sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa IAIS, Khoiril Anwar, tindakan penghadang Warek I IAIS, Satuyar, sikap yang sebenarnya tidak pantas dilakukan oleh seorang dosen. Apalagi, aksi gerakan mahasiswa mengutuk keras pembunuhan yang menodai Ideologi pancasila.
"Kami ini mengutus pembunuhan yang dalam al-qur'an dilarang, malah sama dosen kita, dilarang mengelar aksi kecaman yang dianjurkan dalam kitab suci," jelasnya.
Aksi mahasiswa ini, sebenarnya mendapat dukungan publik masyarakat Lumajang. Namun, akibat tingkah laku oknum Dosen, menjadi opini masyarakat mengenai adanya hubungan dekat dengan Bupati Lumajang.(ls/red)
Editor : Redaksi