Lumajang (lumajangsatu.com) - Kerusakan lingkungan di Pantai Watu Pecak sangat parah. Ketika puluhan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia melakukan kunjungan, dihadang oleh banjir rob di lokasi tambang pasir illegal di Desa Selok Awar-awar Kecamatan Pasirian.
Para aktivis harus melalui jalan yang biasa digunakan untuk penambangan dengan berbasah-basah. Pasalnya, air dari saluran irigasi tidak bisa masuk pantai, lantaran laut selatan sedang pasang.
Baca juga: Dukungan Penuh Penegakan Perda, DPRD Lumajang Ikuti Pemusnahan 3 Miras Botol Miras Ilegal
"Pokoknya, kayak danau," ujar Ketua PC PMII Lumajang, Muhammad Hariyadi, Jum'at(16/10).
Banjir rob ini terjadi saat air pasang laut, sehingga air irigasi tidak bisa masuk ke pantai. Akibatnya, tanaman pertanian rusak. "Kejadin ini, sering terjadi saat ada tambang," terangnya.
Baca juga: Pemerintah Tanggapi Catatan Fraksi, DPRD Lumajang Lanjutkan Pembahasan P-APBD 2026
Warga Desa Selok Awar-awar Kecamatan Pasirian yang memiliki lahan garapan pertanian di kawasan pesisir. Sebenarnya sudah melakukan perlawanan, karena ada intimidasi oleh Tim 12, hanya pasrah.
"Kita tak berani, mereka membawa clurit, pak Tosan dan almarhum Salim Kancil bersama kawan-kawannya yang berani melawan," ujar Satuji, warga setempat.(ls/red)
Baca juga: DPRD Lumajang Siap Kawal Pembangunan: H. Sudi Hadiri Pembukaan TMMD Ke-129 di Desa Ledoktempuro
Foto : Muhammad Hariyadi PC PMII Lumajang
Editor : Redaksi