Seni Vandalisme Perjuangan Nyawa Tak Semahal Tambang Kepung Kota Lumajang

lumajangsatu.com

Lumajang (lumajangsatu.com) - Banyak cara yang dilakukan aktivis di Lumajang untuk tetap menjadikan kasus pembunuhan Salim Kancil sebagai perjuangan untuk kotanya lebih baik lagi. Hal ini juga seperti saat perjuangan indonesia, banyak seni vandalisme yang mewarnai kemerdekaan negeri ini.

Jika di Zaman perjuanagn kita bisa melihat melalui film perjuanagn ada vandalisme "Merdeka Atoe Matie
", Di Lumajang ada vandalisme diruang publik "Ditanah Kami Nyawa Tak Semahal Tambang". Tulisan ini tersebar dibeberapa titik kota Lumajang.

Baca juga: Kelompok Tani Cipta Jasa Dawuhan Wetan Serahkan Bantuan Korban Erupsi Semeru Lumajang

"Seperti saat Indonesia memperjuangkan kemerdekaan vandalisme Salim Kancil," ujar Sujak, warga Desa Banjar Waru Kecamatan Kota Lumajang.

Baca juga: Dukung Peningkatan IPM dan RLS, Fraksi PDI Perjuangan Lumajang Gagas Beasiswa Gotong Royong

"Ini momentum bagi Pemerintah Lumajang memperbaiki kinerja, Nyawa melayang lantaran Pasir yang akan dijadikan janji politik kesejahteraan dan martabat," ungkap Anwar, aktivis Mahasiswa.

"Wah, ide bagus, agar pembunuh Salim Kancil diberikan hukuman yang setimpal," terang Hadi, warga Desa Wonorejo Kecamatan Kedungjajang.

Baca juga: PDI Perjuangan Lumajang Rilis Kinerja Fraksi DPRD Selama Tahun 2025

Tulisan Vandalisme yang tersebar diberbagai titik di Lumajang memakai cat pillok warna hitam dan merah.(ls/red)

Editor : Redaksi

Politik dan Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru