Cek Fakta

Ribuan Hoaks Mengintai, Lumajang Perkuat Budaya Verifikasi Informasi di Era Digital

avatar Indana Zulfa
  • URL berhasil dicopy
Diskominfo Lumajang mengajak masyarakat membudayakan cek fakta dan verifikasi sumber informasi guna mencegah penyebaran hoaks serta memperkuat literasi digital di tengah derasnya arus informasi.
Diskominfo Lumajang mengajak masyarakat membudayakan cek fakta dan verifikasi sumber informasi guna mencegah penyebaran hoaks serta memperkuat literasi digital di tengah derasnya arus informasi.

Lumajang  – Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan masyarakat saat ini bukan lagi sekadar mendapatkan informasi, melainkan memastikan setiap informasi yang diterima benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan memverifikasi informasi pun menjadi kunci penting untuk menjaga kualitas ruang publik sekaligus membendung penyebaran hoaks dan disinformasi yang berpotensi memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.

 

Urgensi tersebut semakin nyata setelah Tim Analisis Isu Strategis (AIS) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mencatat sedikitnya 1.573 isu hoaks dan disinformasi beredar di ruang digital Indonesia sepanjang tahun 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya menghadapi banjir informasi, tetapi juga tantangan besar dalam memilah fakta dan informasi yang menyesatkan.

 

Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) bersama Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) terus mengintensifkan gerakan literasi digital. Langkah ini dilakukan untuk membangun budaya verifikasi informasi, meningkatkan kualitas partisipasi publik, serta memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi dinamika informasi di era digital.

 

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lumajang, Mustaqim, menegaskan bahwa literasi digital harus dimaknai lebih luas daripada sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi atau media sosial.

 

Menurutnya, masyarakat perlu dibekali kemampuan berpikir kritis untuk menelusuri sumber informasi, memahami konteks, dan memastikan kebenarannya sebelum mempercayai maupun menyebarkannya kepada orang lain.

 

 “Literasi digital tidak hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami dan memverifikasi informasi yang diterima. Budaya verifikasi perlu menjadi kebiasaan bersama agar masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).

 

Ia menjelaskan, kebiasaan memeriksa fakta menjadi semakin penting karena informasi yang tidak benar dapat menyebar dengan cepat dan memengaruhi persepsi publik. Sebaliknya, masyarakat yang terbiasa melakukan verifikasi akan lebih siap menyikapi berbagai isu secara bijak, rasional, dan berbasis data.

 

Untuk memperluas jangkauan edukasi, Diskominfo juga terus memperkuat kolaborasi dengan KIM sebagai mitra strategis dalam menyebarluaskan informasi publik sekaligus meningkatkan literasi digital masyarakat hingga tingkat desa.

 

Sementara itu, Ketua KIM Tukum Mandiri, Muhammad Luqman, menilai setiap individu kini memiliki peran penting dalam ekosistem informasi digital. Masyarakat tidak lagi hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga dapat menjadi produsen sekaligus penyebar informasi yang memengaruhi lingkungan sekitarnya.

 

Karena itu, membiasakan diri memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya dinilai sebagai langkah sederhana yang berdampak besar terhadap kualitas ruang informasi publik.

 

 “Setiap orang memiliki tanggung jawab dalam menjaga kualitas informasi di ruang digital. Membiasakan diri memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya merupakan langkah sederhana, tetapi memiliki dampak besar dalam membangun lingkungan informasi yang sehat dan bermanfaat,” katanya.

 

Menurut Luqman, KIM hadir tidak hanya sebagai saluran diseminasi informasi pembangunan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran masyarakat untuk meningkatkan kecakapan digital, memperkuat literasi publik, dan menumbuhkan budaya verifikasi informasi hingga tingkat akar rumput.

 

Lebih jauh, budaya verifikasi informasi tidak hanya berperan dalam menangkal hoaks. Kemampuan tersebut juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas demokrasi, pelayanan publik, dan pembangunan daerah. Masyarakat yang memperoleh informasi akurat akan lebih mudah berpartisipasi dalam pembangunan, menyampaikan masukan yang konstruktif, serta mengawasi pelayanan publik secara objektif.

 

Melalui sinergi antara Diskominfo, KIM, Media Center, dan berbagai elemen masyarakat, Kabupaten Lumajang terus mendorong terwujudnya masyarakat digital yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga cakap memilah informasi, kritis menyikapi isu publik, serta aktif menyebarkan informasi yang edukatif, memberdayakan, dan mencerahkan.

 

Di tengah kemunculan ribuan hoaks dan disinformasi yang terus membayangi ruang digital, budaya verifikasi menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan publik, memperkuat kohesi sosial, dan membangun masyarakat yang tangguh menghadapi tantangan era informasi (Red).