Pengabdian
Mahasiswa KKN UGM Olah Limbah Kulit Kopi Senduro Jadi Bio-Briket Bernilai Ekonomi
LUMAJANG, 9 Juli 2026 – Tim Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada Swadarma Senduro 2026 menggelar sosialisasi dan demonstrasi program kerja interdisipliner "Diversifikasi Olahan Limbah Kulit Kopi Menjadi Bio-Briket" di Desa Kandangtepus, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Program ini digagas oleh Alya Atma Fatimah dari Fakultas Kehutanan bersama Adinda Kurnia A.A dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis dengan tujuan mengubah limbah kulit kopi yang selama ini terbuang menjadi produk bahan bakar alternatif yang memiliki nilai ekonomi. Kegiatan ini melibatkan beberapa kelompok pengelola kopi setempat sebagai mitra utama sekaligus penghasil limbah kulit kopi.
Kulit Kopi yang Terbuang di Tengah Kebun yang Melimpah
Desa Kandangtepus dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan kopi di Kecamatan Senduro, dengan luas lahan mencapai 109,7 hektare dan hasil panen sekitar 8,7 ton per hektare setiap tahunnya. Besarnya produksi kopi ini ternyata turut menyisakan persoalan yang jarang disadari yaitu kulit ari kopi hasil sampingan proses roasting menumpuk dalam jumlah besar. Selama ini, limbah tersebut sebagian besar hanya dibuang begitu saja ke tempat pembuangan sampah, atau sebagian kecil dimanfaatkan sebagai pakan ternak dengan nilai ekonomi yang jauh dari maksimal.
Padahal, dari sisi kandungan biomassanya, kulit ari kopi punya potensi besar untuk diolah lebih lanjut. Selain tersedia melimpah, limbah ini bisa dikarbonisasi menjadi arang dan diolah menjadi bahan bakar padat dengan biaya produksi yang relatif rendah. Melihat peluang inilah, tim KKN-PPM UGM tergerak untuk merancang program yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka jalan bagi nilai ekonomi baru bagi warga.
Dari Pelatihan Produksi hingga Sosialisasi ke Warga
Program ini dijalankan secara bertahap. Sebelum sosialisasi digelar, tim KKN terlebih dahulu melaksanakan pelatihan pembuatan bio-briket dari kulit ari kopi, mulai dari proses karbonisasi arang, penghalusan, pembuatan perekat dari tepung tapioka, pencampuran dan pencetakan, hingga tahap pengeringan. Proses produksinya sengaja dirancang sederhana agar mudah diadopsi oleh warga dengan alat dan bahan yang murah dan mudah didapat, seperti wadah pencampur, alat karbonisasi sederhana, cetakan briket, kulit ari kopi kering, tepung tapioka, dan air.
Puncaknya, pada Kamis, 9 Juli 2026, tim menggelar sosialisasi dan demonstrasi langsung kepada warga dan kelompok pengelola kopi di Desa Kandangtepus. Dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memaparkan konsep dan manfaat bio-briket, tetapi juga mempraktikkan langsung seluruh tahapan pembuatannya di hadapan warga. Desain briket yang dibuat berlubang di bagian tengah merupakan detail teknis yang memiliki pengaruh besar. Lubang ini meningkatkan efisiensi pembakaran, menghasilkan panas yang lebih tinggi, sekaligus mengurangi asap dibanding briket konvensional.
Menariknya, program ini tidak hanya terbatas pada aspek produksi. Sebagai bagian dari kolaborasi interdisipliner, tim juga memaparkan hasil analisis potensi pasar dan strategi pemasaran untuk produk bio-briket kulit kopi. Analisis dilakukan menggunakan kerangka SWOT untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengembangan produk. Hasil analisis menunjukkan bahwa bio-briket kulit kopi memiliki beberapa kekuatan (value proposition), yaitu memanfaatkan limbah kulit kopi yang melimpah, ramah lingkungan, mampu meningkatkan produktivitas komoditas kopi, serta memiliki biaya produksi yang rendah. Di sisi lain, produk ini masih menghadapi tantangan berupa rendahnya tingkat pengenalan produk, konsistensi kualitas yang bergantung pada proses produksi, serta keterbatasan jaringan distribusi dan pemasaran. Selain itu, terdapat ancaman berupa persaingan dengan bahan bakar alternatif dan fluktuasi ketersediaan bahan baku akibat musim panen. Meskipun demikian, pengembangan produk masih memiliki peluang yang besar seiring meningkatnya tren penggunaan energi terbarukan dan terbukanya potensi pasar baru. Segmentasi pelanggan produk bio-briket kulit kopi terbagi menjadi dua yaitu business to business (B2B) dan business to consumer (B2C). Segmen B2B adalah UMKM kuliner sedangkan segmen B2C terdiri dari rumah tangga dan komunitas pecinta camping atau outdoor. Hasil analisis menunjukan bahwa pasar bio-briket saat ini masih didominasi oleh briket dari sabut kelapa sehingga bio-briket berbahan kulit kopi memiliki peluang untuk menjadi produk alternatif di pasar yang menawarkan diferensiasi dengan biaya produksi yang rendah.
Dengan asumsi skala permulaan, dalam satu minggu, bio-briket dapat diproduksi sebanyak 500 buah dengan biaya produksi sebesar Rp73.000 sehingga memiliki harga pokok produksi sebesar Rp146 per buah. Dengan memperhitungkan margin yang ingin dicapai, maka rekomendasi harga jual bio-briket adalah sebesar Rp500 per buah dan memiliki potensi keuntungan sebesar Rp177.000 untuk setiap satu minggu periode produksi. Penjualan dapat dilakukan dengan strategi konvensional dan e-commerce. Strategi konvensional meliputi promosi dari mulut ke mulut (words of mouth) dan kerja sama dengan mitra guide wisata camping. Adapun e-commerce dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi Shopee, Tokopedia, dan WhatsApp Business serta memaksimalkan sosial media seperti Instagram dan Tik-Tok sebagai sarana meningkatkan product awareness.
Warga Antusias, Melihat Peluang di Balik Limbah
Respons warga terhadap program ini terbilang sangat positif. Kelompok pengelola kopi yang hadir dalam sosialisasi tampak antusias dan banyak yang meminta kesempatan untuk mencoba praktik langsung pembuatan briket. Antusiasme ini tidak lepas dari harapan warga agar limbah kulit kopi yang selama ini hanya dibuang atau sekadar dijadikan pakan ternak, ke depannya bisa benar-benar dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan tambahan.
Selain nilai ekonominya, program ini juga menawarkan manfaat yang lebih luas seperti mengurangi penumpukan limbah organik di lingkungan desa, sekaligus menghadirkan alternatif bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dibanding sumber energi konvensional. Melihat pasar bio-briket berbahan kulit kopi yang di Indonesia masih sangat terbatas dan didominasi oleh briket berbahan sabut kelapa, inovasi ini berpeluang menjadi produk unggulan sekaligus membuka pasar baru bagi Desa Kandangtepus.
Harapan Keberlanjutan Program
Tim KKN-PPM UGM berharap program ini tidak berhenti sebatas kegiatan sosialisasi, melainkan dapat terus dilanjutkan secara mandiri oleh kelompok pengelola kopi di Desa Kandangtepus. Dengan bahan baku yang melimpah dan biaya produksi yang rendah, bio-briket kulit kopi diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk diversifikasi usaha yang mendukung produktivitas sektor perkebunan kopi sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga desa.
"Kami sangat antusias dengan pelatihan dan sosialisasi ini. Selama ini kulit kopi hanya kami buang atau jadikan pakan ternak, ternyata bisa diolah jadi briket yang punya nilai jual. Semoga ini bisa terus kami kembangkan," ujar salah satu perwakilan kelompok pengelola kopi Desa Kandangtepus.
(Tim KKN-PPM UGM Swadarma Senduro 2026)
Editor : Redaksi