Lumajang - Nama Ajeng Febria menjadi pusat ledakan energi saat naik ke panggung konser “Sugeng Dalu” di Lumajang. Begitu langkahnya menyentuh panggung, suasana yang semula syahdu berubah liar ritme menghentak, sorotan lampu menari, dan ribuan penonton seketika kehilangan kendali.
Baca juga: Bersih Desa Senduro ke-182 Berlangsung Khidmat, Polisi Kawal Tradisi Leluhur Tetap Aman
Dentuman musik langsung menyambar. Ajeng tak memberi jeda. Dengan suara yang tajam dan penuh tenaga, ia meluncurkan lagu demi lagu yang memancing reaksi spontan: pinggul bergoyang, tangan terangkat, dan teriakan histeris membelah malam. Tak ada yang diam semua larut dalam irama.
Di barisan depan, penonton berdesakan, ikut bernyanyi tanpa ragu. Di bagian belakang, gelombang goyangan tetap terasa, seolah panggung mengirim getaran hingga ke titik terjauh. Ajeng menguasai semuanya gestur, suara, hingga interaksi yang membuat penonton merasa dilibatkan secara personal.
Baca juga: Patroli Dini Hari Digencarkan, Polsek Randuagung Persempit Ruang Gerak Pelaku Kejahatan Jalanan
“Ini bukan sekadar nyanyi, ini ngajak semua orang hidup di lagu,” teriak seorang penonton di tengah riuhnya suasana.
Puncaknya datang ketika Ajeng menaikkan tempo. Musik dipacu lebih cepat, dan massa pun ikut terseret. Lumajang malam itu berubah jadi lautan goyang tak terkendali, penuh energi, dan nyaris meledak.
Penampilan Ajeng Febria bukan hanya menghibur. Ia mengguncang. Ia memaksa penonton untuk bergerak, merasakan, dan tenggelam dalam euforia yang sulit dilupakan (Red).
Editor : Redaksi