Lumajang — Akses layanan kesehatan yang setara kembali diuji. Pemerintah Kabupaten Lumajang merespons cepat dengan mendampingi Yasmin Wahyuni Ramadani (13), remaja asal Jogoyudan yang tengah menjalani pemulihan pascaoperasi tumor ganas.
Baca juga: Pemkab Lumajang Perkuat Pengawasan Garam Beriodium, Cegah Gangguan Akibat Kekurangan Iodium
Bupati Lumajang Indah Amperawati turun langsung memastikan seluruh proses berjalan tanpa hambatan. Tidak hanya penanganan medis, dukungan transportasi hingga akomodasi turut disiapkan agar keluarga pasien tidak terbebani.
“Tidak boleh ada warga yang kesulitan berobat. Pemerintah harus hadir memastikan akses itu terbuka,” tegas Bupati yang akrab disapa Bunda Indah saat menjenguk Yasmin, Jumat (24/4/2026).
Kasus Yasmin menyoroti realitas di lapangan: layanan kesehatan tak cukup berhenti di ruang operasi. Setelah sempat didiagnosis kista, Yasmin dirujuk ke RS Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya dan dinyatakan mengidap tumor ganas. Operasi telah dilakukan, dan kini ia memasuki fase pemulihan yang tak kalah krusial.
Di titik ini, peran pemerintah daerah menjadi penentu. Pemkab Lumajang memastikan seluruh kebutuhan, termasuk non-medis, terpenuhi. Salah satunya melalui penyediaan rumah singgah Graha Lamajang di Surabaya bagi warga yang menjalani pengobatan lanjutan.
Baca juga: Bukan Sekadar Event, Dulur Sekarkijang Dorong UMKM Lumajang Tembus Pasar Lebih Luas
“Layanan kesehatan harus komprehensif, tidak hanya pengobatan tetapi juga pendampingan selama proses penyembuhan,” ujarnya.
Langkah ini sekaligus menjawab tantangan dalam sistem rujukan nasional, di mana akses bagi pasien ke luar daerah kerap terkendala biaya dan logistik. Dengan intervensi langsung, beban keluarga Yasmin yang sebelumnya harus bergantung pada transportasi umum kini dapat ditekan.
Baca juga: 26 Peserta Meriahkan Karnaval HUT ke-81 RI di Mojo, Polisi Kawal Jalur hingga Usai
Lebih luas, kasus ini menegaskan pentingnya integrasi layanan kesehatan antara pusat dan daerah mulai dari kecepatan respons, sistem rujukan, hingga fasilitas pendukung.
Apa yang dilakukan Lumajang menunjukkan satu hal tegas: pelayanan kesehatan yang inklusif bukan sekadar wacana, melainkan kehadiran nyata negara di saat warganya paling membutuhkan (Red).
Editor : Redaksi