Pemkab Lumajang Dorong Regenerasi Seniman Muda Lewat Segoro Topeng Kaliwungu

Reporter : Indana Zulfa

Lumajang– Keberlanjutan budaya tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering sebuah tradisi dipentaskan, tetapi juga oleh keberhasilan mewariskan nilai, pengetahuan, dan praktik budaya kepada generasi penerus. Karena itu, regenerasi pelaku seni menjadi aspek penting dalam menjaga identitas budaya daerah agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

 

Baca juga: Masuk KEN, Segoro Topeng Kaliwungu Andalkan Kolaborasi Lintas Sektor

Komitmen tersebut diwujudkan Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui penyelenggaraan Segoro Topeng Kaliwungu 2026 yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan regenerasi bagi generasi muda.

 

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang, Patria Dwi Hastiadi, mengatakan pelibatan generasi muda dalam Segoro Topeng Kaliwungu merupakan bagian dari strategi pembangunan kebudayaan yang berorientasi pada keberlanjutan identitas lokal.

 

Menurutnya, budaya tidak cukup dijaga melalui pelestarian simbol atau penyelenggaraan kegiatan seremonial semata, melainkan harus diwariskan secara aktif melalui keterlibatan langsung generasi penerus dalam proses berkesenian dan kehidupan budaya masyarakat.

 

"Budaya tidak boleh berhenti sebagai pertunjukan. Ia harus menjadi sistem pengetahuan yang hidup dan diwariskan secara aktif," ujar Patria saat dikonfirmasi, Sabtu (6/6/2026).

 

Pada penyelenggaraan Segoro Topeng Kaliwungu tahun ini, sebanyak 500 penari akan terlibat dalam berbagai rangkaian pertunjukan. Dari jumlah tersebut, sekitar 100 penari merupakan anak-anak yang dilibatkan secara langsung dalam proses latihan, pembelajaran, hingga pementasan.

 

Keterlibatan generasi muda tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk memastikan proses transfer pengetahuan budaya berlangsung secara berkelanjutan. Melalui pengalaman langsung, anak-anak tidak hanya mengenal seni tradisi sebagai tontonan, tetapi juga memahami nilai, filosofi, dan identitas budaya yang terkandung di dalamnya.

Baca juga: Polsek Kunir Perkuat Patroli Cipta Kondisi Demi Wujudkan Rasa Aman Masyarakat

 

Patria menjelaskan bahwa pembangunan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari upaya menciptakan ruang yang memungkinkan budaya terus dipraktikkan, dipelajari, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

Menurutnya, tantangan terbesar dalam pelestarian budaya saat ini bukan hanya menjaga keberadaan tradisi, tetapi juga memastikan hadirnya generasi penerus yang memahami, mencintai, dan bersedia melanjutkan warisan budaya daerah.

 

"Regenerasi menjadi kunci agar seni dan budaya tidak berhenti pada generasi saat ini. Karena itu, keterlibatan anak-anak dan generasi muda harus terus diperkuat agar identitas budaya daerah tetap hidup dan berkembang," jelasnya.

 

Baca juga: Pemkab Lumajang Dorong Pengembangan Durian Bawor untuk Tingkatkan Ekonomi Desa

Dalam perspektif tersebut, Segoro Topeng Kaliwungu tidak hanya diposisikan sebagai agenda budaya tahunan, tetapi juga sebagai ruang pendidikan budaya yang mempertemukan pelaku seni lintas generasi dalam satu ekosistem kreatif.

 

Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat fungsi budaya sebagai sarana membangun karakter, menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan daerah, serta memperkokoh identitas masyarakat di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.

 

Melalui regenerasi yang terencana dan berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Lumajang berharap Segoro Topeng Kaliwungu tidak hanya menjadi representasi kekayaan seni budaya daerah, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya Lumajan

g bagi generasi mendatang.

Editor : Redaksi

Politik dan Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru