Lumajang— Letak sekolah di kawasan pedesaan bukan alasan untuk membatasi mimpi dan prestasi anak-anak. Dari Desa Ledoktempuro, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, SD Islam Al Muhajir menunjukkan bahwa keterbatasan geografis tidak harus berujung pada keterbatasan capaian.
Baca juga: Ramp Check 37 Bus di Terminal Menak Koncar, Lima Kendaraan Dinyatakan Tak Layak Uji
Memasuki usia ke-11 tahun, SD Islam Al Muhajir terus meneguhkan komitmennya untuk memberikan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kecintaan terhadap Al-Qur’an, kemandirian, serta keberanian peserta didik untuk berkompetisi dan berprestasi hingga tingkat nasional.
Semangat tersebut terasa dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Milad ke-11 SD Islam Al Muhajir, Sabtu (12/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum refleksi perjalanan sekolah sekaligus meneguhkan kembali arah pendidikan yang ingin dibangun dari lingkungan pedesaan.
Perayaan milad tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Sekolah juga merangkainya dengan pengukuhan Paguyuban Wali Murid. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang peserta didik.
Kepala SD Islam Al Muhajir, Ustadz Muhammad Holil, menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh lokasi sekolah. Menurutnya, sekolah yang berada di desa pun memiliki peluang yang sama untuk melahirkan generasi berprestasi.
“Kami ingin membuktikan bahwa sekolah desa bukan berarti sekolah yang harus tertinggal. Kalau guru mau terus belajar, anak-anak diberi ruang untuk berkembang, orang tua terlibat, dan sekolah memiliki budaya yang kuat, insyaallah anak-anak dari desa juga mampu berprestasi sampai tingkat nasional,” tegasnya.
Menurut Holil, keberanian untuk bermimpi besar harus ditanamkan sejak anak-anak berada di bangku sekolah dasar. Mereka perlu mendapatkan ruang untuk mengenali potensi, mencoba berbagai bidang, sekaligus belajar menghadapi tantangan.
Bagi SD Islam Al Muhajir, prestasi juga tidak ditempatkan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan. Kemampuan akademik dan capaian kompetisi harus berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak dan karakter.
Sekolah menempatkan Al-Qur’an dan adab sebagai fondasi dalam proses pendidikan. Harapannya, peserta didik tidak hanya tumbuh menjadi anak yang mampu meraih penghargaan, tetapi juga memiliki kepribadian yang baik dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“Kami tidak ingin hanya mengejar prestasi. Anak-anak harus memiliki fondasi Al-Qur’an, adab, kemandirian, dan karakter. Anak Qurani harus tumbuh menjadi manusia yang unggul dan bermanfaat,” lanjutnya.
Orang Tua Bukan Sekadar Wali Murid
Baca juga: Polisi Sahabat Anak, Satlantas Lumajang Tanamkan Budaya Keselamatan Sejak Dini
Pengukuhan Paguyuban Wali Murid menjadi penanda penting dalam perjalanan sekolah memasuki usia ke-11. Bagi Al Muhajir, pendidikan anak tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi.
Sekolah menyadari bahwa sebagian besar waktu anak justru dihabiskan bersama keluarga. Karena itu, dukungan dan keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pendidikan yang diberikan di sekolah.
Kolaborasi tersebut diharapkan membuat pembentukan karakter anak tidak berjalan sendiri-sendiri. Nilai kedisiplinan, kemandirian, kecintaan terhadap Al-Qur’an, hingga semangat belajar perlu mendapatkan penguatan di lingkungan keluarga.
Novitamedi, salah satu wali murid, menilai sinergi antara sekolah dan orang tua menjadi hal penting dalam mendukung perkembangan anak.
“Kami sebagai orang tua merasa sekolah dan orang tua harus berjalan bersama. Anak-anak tidak cukup hanya dididik di sekolah, tetapi juga harus didukung di rumah. Kami bangga melihat anak-anak berkembang, tidak hanya dalam prestasi, tetapi juga dalam Al-Qur’an, kemandirian, dan akhlaknya,” tuturnya.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya terlihat dari nilai yang diperoleh anak atau banyaknya penghargaan yang diraih. Perubahan sikap, keberanian, kemandirian, serta kemampuan anak menerapkan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bagian penting.
Memasuki usia ke-11, SD Islam Al Muhajir pun dihadapkan pada tantangan untuk terus berkembang. Sekolah dituntut tidak hanya mempertahankan capaian yang telah diraih, tetapi juga menciptakan ruang yang lebih luas bagi peserta didik untuk menggali potensi mereka.
Dari sebuah sekolah di kawasan pedesaan Ledoktempuro, mimpi itu terus dirawat. Guru didorong untuk berkembang, peserta didik diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan, sementara orang tua diajak menjadi mitra dalam perjalanan pendidikan.
Milad ke-11 akhirnya bukan sekadar penanda bertambahnya usia sekolah. Lebih dari itu, menjadi pengingat bahwa pendidikan berkualitas dapat tumbuh di mana saja, termasuk dari pelosok desa.
Dari Ledoktempuro, untuk Indonesia. Sekolah desa, prestasi nasional (Red).
Editor : Redaksi