Tradisi
Grebeg Suro Sumbermujur, Merawat Mata Air dan Menjaga Warisan Kehidupan di Kaki Semeru
Lumajang — Setiap tetes air yang keluar dari mata air di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, tak pernah memilih ke mana ia akan mengalir. Air itu menyusuri saluran-saluran kecil, menghidupi sawah, menyegarkan kebun, memenuhi kebutuhan rumah tangga, sekaligus menopang kehidupan ribuan warga di kaki Gunung Semeru.
Bagi masyarakat Sumbermujur, air bukan sekadar sumber daya alam. Ia adalah berkah yang terus mengalir dari generasi ke generasi. Karena itulah, setiap datangnya bulan Suro dalam penanggalan Jawa, warga berkumpul untuk menggelar tradisi Grebeg Suro sebagai ungkapan syukur atas anugerah yang selama ini menjaga denyut kehidupan desa.
Selasa (16/6/2026), tradisi itu kembali digelar dengan penuh khidmat. Puluhan warga mengarak gunungan hasil bumi menuju kawasan mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Di bawah rindangnya pepohonan dan semilir angin lereng Semeru, langkah-langkah mereka seakan menjadi penegasan bahwa hubungan manusia dengan alam masih terjaga erat.
Di barisan terdepan, gunungan menjulang di atas usungan bambu. Jagung, padi, sayuran, buah-buahan, hingga beragam hasil pertanian disusun membentuk simbol kemakmuran dan rasa syukur. Hasil bumi tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan representasi dari kerja keras petani dan keberkahan alam yang mereka rasakan sepanjang tahun.
Namun sesungguhnya, tokoh utama dalam tradisi itu bukanlah gunungan yang diarak ataupun keramaian warga yang mengikutinya. Tokoh utama yang dihormati masyarakat adalah mata air yang tak pernah berhenti mengalir di kaki Semeru.
Mata air tersebut telah ada jauh sebelum jalan-jalan desa dibangun. Ia menjadi saksi pergantian generasi, perubahan zaman, dan tumbuhnya kehidupan masyarakat yang menggantungkan harapan pada setiap aliran air yang keluar dari perut bumi. Dari sanalah sawah-sawah tetap hijau, tanaman tumbuh subur, dan kehidupan berlangsung sebagaimana mestinya.
Kesadaran akan pentingnya menjaga sumber kehidupan itu telah lama berakar dalam budaya masyarakat Sumbermujur. Ia hidup dalam tradisi, tumbuh dalam kebiasaan sehari-hari, dan diwariskan melalui berbagai ritual yang tetap lestari hingga kini.
Desa Sumbermujur sendiri dikenal memiliki kawasan Hutan Bambu yang menjadi salah satu ikon wisata sekaligus penyangga lingkungan desa. Kawasan hijau tersebut berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan sumber-sumber air yang menghidupi masyarakat sekitar.
Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi banyak daerah, keberadaan mata air Sumbermujur menjadi pengingat bahwa kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Pesan itulah yang tercermin dalam setiap prosesi Grebeg Suro. Tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun ini bukan sekadar seremoni budaya tahunan, melainkan ruang refleksi bersama tentang pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.
Prosesi mencapai puncaknya saat arak-arakan tiba di kawasan mata air. Di lokasi yang teduh dan dikelilingi vegetasi hijau tersebut, warga memanjatkan doa-doa sebagai ungkapan syukur atas limpahan air yang terus mengalir sepanjang tahun.
Salah satu bagian yang paling dikenal dalam tradisi ini adalah prosesi memendam kepala sapi di sekitar kawasan mata air. Bagi masyarakat setempat, ritual tersebut merupakan simbol penghormatan dan rasa terima kasih atas anugerah alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan bersama.
Kepala Desa Sumbermujur, Yayuk Sri Rahayu, mengatakan Grebeg Suro merupakan warisan budaya yang terus dijaga masyarakat sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga sumber air dan lingkungan.
*"Tradisi ini bukan hanya tentang budaya, tetapi juga tentang kesadaran bersama untuk menjaga sumber kehidupan. Melalui Grebeg Suro, masyarakat diajak untuk terus merawat lingkungan dan menghargai warisan yang telah dijaga oleh para leluhur,"* ujarnya.
Makna Grebeg Suro pun melampaui batas sebuah perayaan budaya. Tradisi ini menjadi ruang pembelajaran sosial yang mempertemukan nilai-nilai kearifan lokal dengan tantangan zaman modern.
Hal itu terlihat dari keterlibatan masyarakat yang begitu besar. Anak-anak, pemuda, tokoh masyarakat, kelompok seni, hingga para sesepuh desa terlibat dalam setiap tahapan kegiatan. Mereka bergotong royong menyiapkan gunungan, mengatur jalannya prosesi, hingga menjaga kawasan mata air yang menjadi pusat pelaksanaan tradisi.
Kehadiran generasi muda menjadi gambaran menarik di tengah derasnya arus modernisasi. Mereka tetap memilih terlibat dalam tradisi leluhur, menunjukkan bahwa budaya akan tetap hidup selama masyarakat masih menemukan makna di dalamnya.
Lebih jauh, Grebeg Suro menjadi cermin bagaimana masyarakat membangun kesadaran kolektif untuk menjaga sumber daya air. Kesadaran tersebut tumbuh bukan melalui aturan yang kaku, melainkan melalui tradisi yang dijalankan bersama dan diwariskan secara turun-temurun.
Dalam konteks yang lebih luas, apa yang dilakukan masyarakat Sumbermujur menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat berjalan beriringan dengan semangat pembangunan berkelanjutan. Nilai-nilai yang hidup dalam tradisi ternyata memiliki tujuan yang sejalan dengan upaya modern dalam menjaga lingkungan dan memastikan keberlanjutan sumber daya alam.
Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber daya air, pesan yang dibawa Grebeg Suro terasa semakin relevan. Bahwa menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Ketika doa-doa selesai dipanjatkan, suasana yang semula khidmat berubah menjadi penuh kegembiraan. Gunungan hasil bumi yang diarak sejak pagi menjadi simbol kebersamaan yang kemudian dinikmati bersama oleh warga yang hadir.
Namun yang sesungguhnya dibawa pulang masyarakat hari itu bukanlah hasil bumi yang tersusun di atas gunungan. Yang mereka bawa adalah pesan yang terus hidup dari generasi ke generasi: bahwa air harus dijaga, alam harus dirawat, dan rasa syukur tidak boleh berhenti mengalir.
Di kaki Gunung Semeru, pesan itu tidak tertulis pada batu ataupun monumen. Ia hidup dalam tradisi, tumbuh dalam kesadaran masyarakat, dan mengalir bersama mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.
Selama mata air itu tetap dijaga dan selama masyarakat masih merawat warisan budayanya, Grebeg Suro akan terus menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam bukan sekadar kebutuhan, melainkan bagian dari jati diri yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya (Red).
Editor : Redaksi