Aman Lancar

Tradisi 1 Suro di Lereng Gunung Lemongan, Ratusan Warga Lintas Agama Bersatu dalam Doa dan Kebersamaan

avatar Indana Zulfa
  • URL berhasil dicopy
Suasana ketika acara berlangsung
Suasana ketika acara berlangsung

Lumajang  — Malam perlahan turun di lereng Gunung Lemongan. Di tengah udara sejuk Desa Papringan, Kecamatan Klakah, ratusan warga duduk bersila dalam suasana khidmat di Pendopo Padepokan Sunyoruri Gunung Puji. Tidak ada sekat agama maupun asal daerah. Yang hadir malam itu dipersatukan oleh satu tujuan: berdoa dan menyambut datangnya Tahun Baru Jawa 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah.

 

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut kembali digelar pada Selasa (16/6/2026) malam hingga Rabu dini hari. Sekitar 120 peserta mengikuti rangkaian ritual yang menjadi bagian dari kearifan budaya masyarakat lereng Gunung Lemongan.

 

Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Kabupaten Lumajang, tetapi juga datang dari berbagai daerah seperti Malang, Jember, Surabaya, Probolinggo, Kediri, Banyuwangi hingga Lampung. Keberagaman semakin terasa karena mereka berasal dari berbagai latar belakang agama, mulai Islam, Hindu hingga Kristen.

 

Di bawah temaram lampu pendopo, kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan doa dan mantra ritual yang dipimpin Juru Kunci Gunung Lemongan, Jaka Dewa Purnama. Suasana hening menyelimuti lokasi ketika para peserta larut dalam doa-doa yang dipanjatkan sebagai bentuk refleksi, harapan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

 

Bagi masyarakat setempat, Malam 1 Suro bukan sekadar pergantian penanggalan Jawa. Tradisi ini menjadi ruang spiritual sekaligus wadah memperkuat ikatan sosial di tengah keberagaman yang hidup berdampingan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan tertib, Bhabinkamtibmas Desa Papringan Aiptu Nanang Handoko bersama Babinsa Sertu Muhtaryono melakukan pengamanan dan monitoring selama kegiatan berlangsung.

 

"Kami hadir untuk melakukan monitoring dan pengamanan agar masyarakat yang mengikuti tradisi Malam 1 Suro dapat melaksanakan kegiatan dengan nyaman dan aman. Alhamdulillah seluruh rangkaian acara berjalan tertib, lancar dan kondusif," ujar Aiptu Nanang Handoko.

 

Menurutnya, tradisi Malam 1 Suro di kawasan lereng Gunung Lemongan merupakan bagian dari warisan budaya yang telah dijaga masyarakat selama bertahun-tahun.

 

"Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana spiritual bagi masyarakat, tetapi juga menjadi momentum mempererat persaudaraan dan toleransi antarwarga yang berasal dari berbagai daerah maupun latar belakang agama," katanya.

 

Nilai kebersamaan itulah yang tampak sepanjang kegiatan berlangsung. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk duduk bersama dalam satu ruang, saling menghormati dan menjaga suasana tetap penuh kekhusyukan.

 

Kapolsek Klakah AKP Ilham Ade Putra turut mengapresiasi seluruh pihak yang berperan menjaga keamanan dan ketertiban selama pelaksanaan kegiatan.

 

Menurutnya, tradisi budaya yang hidup di tengah masyarakat merupakan bagian dari kekayaan sosial yang harus terus dilestarikan selama tetap berjalan dalam koridor keamanan dan ketertiban umum.

 

"Kami mengapresiasi masyarakat yang tetap menjaga situasi tetap kondusif selama kegiatan berlangsung. Kehadiran peserta dari berbagai daerah dan lintas agama menunjukkan kuatnya nilai toleransi dan kebersamaan yang terbangun di tengah masyarakat," ujar AKP Ilham Ade Putra.

 

Ia menambahkan, sinergi antara aparat keamanan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta panitia kegiatan menjadi faktor penting dalam menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta.

 

"Dari hasil pemantauan anggota di lapangan, kegiatan berlangsung aman, lancar dan terkendali. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga keamanan bersama," tambahnya.

 

Di tengah berbagai tantangan sosial yang kerap muncul akibat perbedaan, tradisi Malam 1 Suro di lereng Gunung Lemongan menghadirkan pesan yang sederhana namun kuat: kebersamaan dapat tumbuh di atas keberagaman.

 

Ketika doa-doa dipanjatkan hingga dini hari, masyarakat tidak hanya merayakan datangnya tahun baru dalam penanggalan Jawa. Mereka juga merawat warisan budaya, memperkuat nilai toleransi, serta menjaga semangat persaudaraan yang telah lama hidup di kaki Gunung Lemongan.

 

Dari sebuah pendopo sederhana di lereng gunung, tersampaikan pesan bahwa tradisi bukan hanya tentang menjaga masa lalu, tetapi juga tentang merawat harmoni sosial untuk masa depan (Red).