Lumajang – Edukasi pengelolaan keuangan tak melulu harus berlangsung di ruang kelas. Di tengah suasana alam Bumi Perkemahan Glagah Arum, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, pesan tentang pentingnya mencintai Rupiah sekaligus mengelola keuangan secara bijak justru disampaikan melalui ruang komunitas dan kegiatan kepemudaan.
Baca juga: Perkuat Kemitraan Strategis, Kapolres Lumajang Temui Pimpinan DPRD
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Edukasi Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah Tepian Negeri dan Penukaran Uang Rupiah yang dihadiri Bupati Lumajang Indah Amperawati, Sabtu (8/8/2026).
Di hadapan para peserta, khususnya pelajar dan anggota Gerakan Pramuka, Bunda Indah mengajak generasi muda tidak sekadar mengenal Rupiah sebagai alat pembayaran. Lebih dari itu, mereka didorong membangun kebiasaan mengelola uang secara bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Bunda Indah, kebiasaan sederhana seperti menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membelanjakan uang secara bijak perlu dikenalkan sejak dini. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti di lingkungan kegiatan, tetapi turut dibawa pulang untuk dibagikan kepada keluarga, teman, dan masyarakat sekitar.
> “Rupiah bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga lambang kedaulatan bangsa. Oleh karena itu, kita harus mencintai, bangga, dan memahami Rupiah dengan baik,” ujar Bunda Indah.
Pesan tentang Rupiah kemudian diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari. Generasi muda diajak memahami bahwa mengelola uang bukan sekadar soal berapa banyak yang dimiliki, tetapi juga bagaimana menentukan prioritas dan membuat keputusan keuangan secara bertanggung jawab.
Bunda Indah menilai Gerakan Pramuka memiliki posisi strategis dalam menanamkan kebiasaan tersebut. Aktivitas komunitas yang melibatkan banyak peserta dinilai mampu menjadi ruang belajar yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Baca juga: DBHCHT Lumajang Dioptimalkan untuk Kesejahteraan, Kesehatan, dan Pengawasan Cukai
Tak hanya belajar untuk diri sendiri, para anggota Pramuka juga diharapkan mampu menjadi penggerak edukasi di lingkungan masing-masing.
“Saya berharap adik-adik Pramuka dapat menjadi teladan dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga dan menggunakan Rupiah dengan benar,” katanya.
Edukasi di Glagah Arum juga mencakup cara mengenali keaslian uang Rupiah melalui metode 3D: dilihat, diraba, dan diterawang. Peserta sekaligus diingatkan untuk menjaga kualitas uang dengan tidak melipat, mencoret, meremas, maupun merusaknya.
Kegiatan yang diselenggarakan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jember dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Lumajang dan Bank Jatim Cabang Lumajang tersebut juga dilengkapi layanan penukaran uang Rupiah.
Baca juga: Kebakaran Mendekati B29, Pemkab Lumajang Pastikan Wilayah Argosari Masih Aman
Bunda Indah mengapresiasi sinergi antarlembaga tersebut. Menurutnya, edukasi keuangan akan lebih mudah diterima ketika hadir di tengah masyarakat melalui ruang-ruang komunitas yang dekat dengan aktivitas warga.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga keuangan, dunia pendidikan, dan Gerakan Pramuka terus diperkuat sehingga pemahaman masyarakat mengenai Rupiah dan pengelolaan keuangan dapat semakin luas.
Dari Glagah Arum, pesan itu sederhana: kebiasaan bijak mengelola uang perlu dibangun sejak dini. Sebab, memahami nilai Rupiah bukan hanya tentang mengenali mata uang, tetapi juga belajar menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas setiap keputusan keuangan (Red).
Editor : Redaksi