Gagasan
Bunda Indah Dorong Barcode Literasi di Ruang Publik, Ponsel Jadi Jendela Pengetahuan
Lumajang – Ponsel tak harus berhenti sebagai alat hiburan. Perangkat yang nyaris selalu berada di tangan masyarakat itu dapat dialihkan menjadi pintu masuk pengetahuan. Cukup dengan memindai barcode, warga bisa mengakses beragam bahan literasi saat berada di ruang publik.
Gagasan tersebut disampaikan Bupati Lumajang Indah Amperawati saat memberikan pengarahan dalam Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama, Administrator, Pengawas, dan Fungsional di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lumajang, di Lobby Pemkab Lumajang, Rabu (16/9/2026).
Bunda Indah mendorong Dinas Perpustakaan dan Kearsipan mengembangkan inovasi literasi digital yang tidak terpaku pada gedung perpustakaan. Akses pengetahuan, menurutnya, dapat dibawa ke ruang-ruang yang setiap hari menjadi tempat aktivitas masyarakat.
“Jangan sampai ponsel hanya digunakan untuk hiburan. Jadikan ponsel sebagai jendela pengetahuan,” ujar Bunda Indah.
Ia membayangkan barcode literasi ditempatkan di berbagai ruang publik seperti alun-alun, sekolah, masjid, musala, maupun lokasi lain yang ramai dikunjungi masyarakat.
Konsepnya sederhana. Warga cukup memindai barcode menggunakan telepon seluler, kemudian diarahkan menuju materi bacaan atau informasi edukatif yang telah disiapkan.
Dengan pola tersebut, masyarakat tidak harus secara khusus datang ke perpustakaan untuk membaca. Pengetahuan justru dapat hadir di tengah aktivitas sehari-hari.
Materi yang disediakan pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan warga. Mulai pengetahuan keagamaan, perpajakan, pendidikan, hingga pola pengasuhan anak dapat dikemas dalam format digital yang mudah diakses.
Menurut Bunda Indah, perkembangan teknologi seharusnya diikuti dengan perluasan fungsi. Ketika ponsel telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, perangkat tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas wawasan masyarakat.
Gagasan ini sekaligus menggeser cara pandang terhadap literasi. Membaca tidak lagi semata-mata dilakukan melalui buku yang berada di rak perpustakaan. Di era digital, akses terhadap pengetahuan dapat dibangun melalui teknologi dan ditempatkan di lokasi yang dekat dengan masyarakat.
Seorang orang tua, misalnya, dapat mengakses materi pengasuhan ketika berada di ruang publik. Pelajar bisa memperoleh bahan penunjang pembelajaran, sementara masyarakat umum dapat menemukan informasi praktis mengenai perpajakan atau berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.
Namun, kemudahan akses harus berjalan beriringan dengan kualitas materi. Barcode literasi tidak cukup hanya menjadi inovasi teknologi, tetapi harus mengantarkan masyarakat pada informasi yang bermanfaat, mudah dipahami, dan relevan.
Jika gagasan tersebut dikembangkan secara konsisten, ruang publik tidak hanya menjadi tempat masyarakat berkumpul, tetapi juga dapat berubah menjadi ruang belajar tanpa dinding.
Dari layar ponsel yang selama ini identik dengan hiburan, masyarakat bisa membuka pintu menuju pengetahuan. Literasi pun tak lagi menunggu warga datang ke perpustakaan, tetapi hadir di tempat warga menjalani aktivitas sehari-hari (Red).
Editor : Redaksi