Lumajang – Bullying bukan sekadar candaan. Pesan penting itu digaungkan kepada para siswa SDN Sukosari 02, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang, melalui kegiatan sosialisasi bertajuk “Stop Bullying”.
Edukasi sejak dini ini menjadi langkah untuk menanamkan kesadaran kepada siswa tentang pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, serta bebas dari segala bentuk perundungan.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa diberikan pemahaman mengenai pengertian bullying, berbagai bentuknya, dampak yang ditimbulkan, hingga cara mencegah dan menghadapi tindakan perundungan.
Siswa diajak memahami bahwa bullying tidak bisa dianggap sebagai gurauan biasa. Bullying merupakan tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi orang lain, baik melalui perkataan, tindakan fisik, maupun sikap yang dilakukan secara berulang.
Berbagai bentuk bullying pun diperkenalkan kepada para siswa. Mulai dari bullying verbal seperti mengejek, menghina fisik, mengucilkan, mengancam, hingga memfitnah. Sementara bullying fisik dapat berupa tindakan memukul, menendang, atau bentuk kekerasan lainnya.
Tak hanya itu, siswa juga mendapat pemahaman mengenai perbedaan antara bullying secara langsung dan cyberbullying. Jika bullying umumnya terjadi melalui interaksi tatap muka, cyberbullying dilakukan melalui media digital dan internet.
Para siswa diingatkan bahwa perundungan bisa terjadi di mana saja, mulai dari rumah, sekolah, lingkungan masyarakat, hingga media sosial.
Dampak bullying terhadap korban juga menjadi perhatian dalam sosialisasi tersebut. Perundungan dapat membuat korban merasa takut datang ke sekolah, kehilangan rasa percaya diri, mengalami penurunan prestasi belajar, hingga menghadapi stres dan kecemasan.
Namun, dampak negatif tidak hanya dirasakan oleh korban. Pelaku bullying juga berpotensi mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Jika dibiarkan, kebiasaan melakukan kekerasan dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
Baca juga: KKN STKIP PGRI Lumajang Gelar GEMILANG, Siswa SD/MI Se-Jatigono Adu Cerdas Matematika
Melalui kegiatan ini, siswa diajak membangun kebiasaan saling menghormati, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan rasa empati terhadap sesama. Mereka juga didorong untuk berani berkata “tidak” terhadap bullying, menggunakan media sosial secara bijak, dan ikut menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif.
Siswa juga dibekali langkah-langkah yang harus dilakukan ketika mengalami atau menyaksikan tindakan bullying. Mereka diimbau untuk tidak membalas dengan kekerasan, tetap tenang, serta segera menceritakan kejadian tersebut kepada orang tua maupun guru.
Khusus dalam kasus cyberbullying, siswa juga diingatkan untuk menyimpan bukti dan tidak menyebarluaskan konten yang dapat memperburuk keadaan. Dukungan kepada teman yang menjadi korban pun menjadi bagian penting dalam upaya menghentikan perundungan.
Suasana sosialisasi berlangsung interaktif. Para siswa terlibat aktif melalui sesi tanya jawab dan refleksi mengenai berbagai bentuk bullying yang mungkin mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Api Mengamuk di Blok Sentong TNBTS, Petugas Gabungan Berjibaku Selama Tiga Jam
Kegiatan ditutup dengan pesan kuat bahwa setiap siswa memiliki peran untuk menciptakan lingkungan pertemanan yang positif dan bebas dari kekerasan.
Pesan tersebut semakin diperkuat melalui lagu anti-bullying yang mengajak siswa untuk berteman tanpa membeda-bedakan, tidak saling mengejek, tidak melakukan kekerasan, serta membiasakan diri untuk saling menolong dan menyayangi.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan tumbuh kesadaran sejak dini bahwa bullying bukan candaan dan tidak boleh dibiarkan.
“Stop bullying, mulai dari diri sendiri. Jadilah teman yang saling menghargai, menyayangi, dan menjaga satu sama lain.” (Red)
Editor : Redaksi