Lumajang (lumajangsatu.com) - Tradisi Unan-unan Suku Tengger di Kawasan Kaki Gunung Semeru dan Bromo di Lumajang masih lestari. warga dua Desa yakni Argosari dan Ranupani Kecamatan Senduro menggelar ritual sakral untuk tolak balak, Jum'at(23/11/2018) pagi.
Ribuan warga Suku Tengger mengenakan pakaian hitam dengan selempang sarung membawa sejajen untuk dibawa ke tempat peribadatanya. Para Dukun, Tokoh Masyarakat dan Agama bersama warga tumplek blek dijalanan desa.
Baca juga: Sukan S.H., M.Pd Terpilih Jadi Ketua PD-IPARI Lumajang Periode 2026-2030
Kepala Desa Ranupani, Satumat, menjelaskan bahwa Unan-unan merupakan kegiatan adat istiadat yang harus dilestarikan dan dirangkul dengan bagus, mengingat Unan-unan merupakan titik temu masyarakat Desa Ranupani. Dikatakan, bahwa generasi muda harus ikut menjaga kelestarian budaya yang ada di Desa Ranupani.
"Unan-unan ini bukan agama, namun adat-istiadat yang harus dilestarikan,"
Baca juga: DPRD Setujui Raperda Pertanggungjawaban APBD Lumajang Tahun Anggaran 2025
Kades Argosari, Ismail mengatakan Unan-unan ini tradisi gotong royong warga dalam menolak balak dari sang pencipta. Sehingga, Suku Tengger antusias sekali untuk mengikuti.
"Unan-unan ini warisan leluhur kami dan harus dilestarikan," ungkapnya,
Baca juga: DPRD Lumajang Selesaikan Pembahasan LPJ Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025
Di akhir upacara Adat Unan-Unan, Bupati Thoriqul Has di Ranu Pane dan Bunda Indah di Argosari bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat beserta masyarakat mengikuti arak-arakan Jodang (tempat makanan sesaji) menuju Punden Sanggar Agung, untuk melaksanakan ritual penanaman kepala kerbau dan do'a bersama. (ls/red)
Editor : Redaksi