Dari Desa Wonorejo, Mazizatun Hikmah Bawa Nama Lumajang Bersinar di Jawa Timur
Lumajang – Pagi di Desa Wonorejo, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang, selalu dimulai dengan suasana yang tenang. Embun masih menyelimuti hamparan sawah, udara terasa sejuk, sementara aktivitas warga perlahan menghidupkan jalan-jalan desa.
Dari desa sederhana itulah Mazizatun Hikmah memulai perjalanan hidupnya.
Lingkungan yang membesarkannya menanamkan nilai kerja keras, disiplin, dan semangat untuk terus belajar. Bekal itulah yang kemudian mengantarkannya meraih gelar Puteri Pertiwi Jawa Timur 2026 pada Grand Final Puteri Pertiwi Jawa Timur di Kota Malang, sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Lumajang di tingkat provinsi.
Namun, bagi Mazizatun, mahkota bukanlah garis akhir sebuah perjalanan.
Baginya, mahkota adalah simbol amanah dan tanggung jawab untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Semangat itu diwujudkannya melalui advokasi LENTERA PERTIWI, sebuah gerakan yang mendorong kesetaraan dan pemberdayaan perempuan. Ia percaya setiap perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, mengembangkan potensi, menyampaikan gagasan, serta berkontribusi dalam pembangunan.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah semakin terbukanya ruang bagi perempuan Indonesia untuk berkarya di berbagai bidang. Kesempatan yang setara diyakini menjadi fondasi lahirnya perempuan-perempuan yang mandiri, berdaya saing, dan mampu menjadi agen perubahan.
Perjalanan Mazizatun tidak lepas dari dukungan keluarga. Putri pasangan Adam Malik dan Misti itu tumbuh dalam lingkungan yang selalu menanamkan pentingnya karakter, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar. Dukungan tersebut menjadi kekuatan yang mengiringi setiap langkahnya hingga mampu menorehkan prestasi.
Desa Wonorejo pun memiliki arti tersendiri bagi Mazizatun. Di sanalah tumbuh kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat, sekaligus keyakinan bahwa anak muda dari desa memiliki peluang yang sama untuk berprestasi di tingkat yang lebih luas.
Kepala Desa Wonorejo, Bahrul Rozi, menyebut prestasi Mazizatun sebagai kebanggaan bagi seluruh masyarakat desa. Menurutnya, capaian tersebut membuktikan bahwa desa memiliki sumber daya manusia yang mampu bersaing apabila diberi ruang untuk berkembang.
Ia berharap keberhasilan itu menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus meningkatkan kapasitas diri, berani bermimpi, dan mengukir prestasi yang membawa nama baik daerah.
Kisah Mazizatun juga menjadi pengingat bahwa kekuatan terbesar sebuah daerah tidak hanya terletak pada sumber daya alamnya, tetapi juga pada kualitas manusianya. Generasi muda yang memiliki kepedulian sosial, keberanian, dan kemauan untuk terus belajar merupakan modal penting dalam pembangunan.
Melalui LENTERA PERTIWI, Mazizatun berharap semakin banyak perempuan, khususnya yang berasal dari desa, memiliki keberanian untuk melanjutkan pendidikan, mengembangkan kemampuan, dan mengejar cita-cita tanpa merasa dibatasi oleh latar belakang tempat mereka berasal.
Dari Desa Wonorejo, sebuah lentera harapan kini mulai menyala. Kisah Mazizatun Hikmah membuktikan bahwa mimpi yang lahir dari desa dapat menjangkau panggung yang lebih luas. Dengan kerja keras, kesempatan, dan tekad yang kuat, prestasi tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat dan daerah yang membesarkannya (Red).
Editor : Redaksi