FKUB Lumajang
Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo Jadi Sorotan, Asir: Jangan Korbankan Persaudaraan dan Ukhuwah
Lumajang – Menyikapi pemberitaan terkait penggeledahan sebuah pesantren di Sukoharjo, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lumajang, Asir, S.H., M.H., mengajak masyarakat untuk tetap tenang, mengedepankan tabayun, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
Asir menegaskan, masyarakat perlu menyikapi setiap informasi secara bijak dan proporsional. Terlebih, persoalan yang menyangkut lembaga pesantren dan proses penegakan hukum membutuhkan kehati-hatian agar tidak berkembang menjadi kesalahpahaman maupun keresahan di tengah masyarakat.
“Dalam menyikapi pemberitaan penggeledahan pesantren di Sukoharjo, saya mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang, mengedepankan tabayun, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Jangan sampai informasi yang belum jelas justru memicu kesalahpahaman, keresahan, bahkan merusak persaudaraan di tengah masyarakat,” ujar Asir.
Ia juga menyampaikan bahwa FKUB Kabupaten Lumajang menghormati proses penegakan hukum yang dilakukan kepolisian. Namun, proses tersebut harus tetap berjalan secara profesional, transparan, dan berkeadilan dengan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah.
“Kami menghormati proses penegakan hukum yang dilakukan kepolisian. Namun, kami berharap seluruh proses berjalan secara profesional, transparan, dan berkeadilan, dengan tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta menghormati martabat dan kehormatan lembaga pesantren,” tegasnya.
Menurut Asir, pesantren merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Karena itu, setiap persoalan yang berkaitan dengan pesantren perlu disikapi secara arif, tanpa mengabaikan proses hukum maupun kehormatan lembaga pendidikan keagamaan tersebut.
Lebih lanjut, ia mengajak para ulama, pengasuh pesantren, tokoh agama, masyarakat, serta aparat kepolisian untuk terus membangun komunikasi yang terbuka dan konstruktif.
“Saya juga mengajak para ulama, pengasuh pesantren, tokoh agama, masyarakat, dan aparat kepolisian untuk terus membangun komunikasi serta mengedepankan dialog. Mari kita jaga persaudaraan, jangan mudah terpecah oleh informasi yang belum tentu benar. Kerukunan, persatuan, dan kedamaian harus tetap menjadi prioritas bersama,” ungkapnya.
Asir berharap seluruh elemen masyarakat dapat menahan diri, tidak menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi, serta bersama-sama menjaga suasana yang aman, damai, dan kondusif.
Asir berharap seluruh elemen masyarakat dapat menahan diri, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta bersama-sama menjaga suasana yang aman, damai, dan kondusif. Ia mengingatkan bahwa kerukunan harus dibangun di atas semangat persaudaraan, baik sesama umat Islam (Ukhuwah Islamiyah), sesama manusia (Ukhuwah Basyariyah), maupun sesama anak bangsa (Ukhuwah Wathaniyah).
“Jangan sampai persoalan hukum mengorbankan kerukunan dan persaudaraan. Mari kita rawat Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Basyariyah, dan Ukhuwah Wathaniyah. Perbedaan dan persoalan yang muncul hendaknya tidak membuat kita terpecah belah. Kedepankan tabayun, dialog, dan sikap saling menghormati. Mari bersama menjaga persatuan, karena kedamaian dan kerukunan adalah tanggung jawab kita semua,” pungkas Asir (Red).
Editor : Redaksi