Musisi Lokal

Tak Andalkan Goyang, Sindy Sagita Mampu Hibur Penikmat Dangdut Lumajang

Penulis : lumajangsatu.com -
Tak Andalkan Goyang, Sindy Sagita Mampu Hibur Penikmat Dangdut Lumajang
Cindy Sagita saat manggung disebuah pertunjukan dangdut. (foto istimewa)

Lumajang (lumajangsatu.com) - Anindia dya Sagita atau lebih dikenal dengan nama Sindy Sagita, dulu mengawali karier dengan ikut musik reog. Seiring berjalannya waktu kini dia lebih sering menyanyi diacara nikahan diiringi musik electone.

Perempuan cantik berumur 22 tahun ini menuturkan momen pertamanya manggung ketika dirinya masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Sejak saat itu, ia rutin tampil di berbagai acara terutama hajatan masyarakat seperti wedding.

Mengawali karier sebagai pedangdut yang berasal dari Desa Gondoruso Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang, diakui Sindy tak mudah. Meski sering menerima uang saweran dari kalangan tamu, namun konsekuensi tak enak juga kerap ia rasakan.

"Penyanyi dangdut itu kan capnya sudah kurang baik duluan. Dibilang seksi lah, hanya mengandalkan goyangan lah dan lainnya. Padahal tidak semua kan seperti itu, contohnya saya ini," tandasnya.

Namun ia tak ambil pusing terhadap stigma negatif tersebut. Baginya terpenting dirinya selalu menjaga sikap dan perilaku sebagai seorang penyanyi profesional yang mengutamakan kualitas suara atau vokal.

"Saya selalu menguatkan niat menyanyi itu untuk bekerja lillahitaala. Kalau ada hal negatif terhadap dangdut, itu bukan pada musik tapi pribadi atau pembawaan orang penyanyi itu sendiri," ujar dia. (ind/ls/red)

Editor : Redaksi

Opini

Euthanasia dan Perawatan Paliatif, Dilema Etik Antara Hak Hidup dan Hak Untuk Mengakhiri Penderitaan

Lumajang - Saat ini dunia ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dan sudah sangat maju khusus pada bidang kesehatan. Dengan adanya kemajuan tersebut segala hal akan menjadi lebih mudah untuk dilakukan, seperti dalam hal mendiagnosis penyakit dan menentukan kemungkinan waktu kematian seseorang dengan tingkat akurasi tinggi dan hal tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan logis. Bahkan para dokter kini pun juga dapat memberikan bantuan dalam mengakhiri kehidupan pasien  dengan kondisi medis yang memiliki tingkat kesembuhan relatif rendah atau dalam kondisi penyakit terminal. Proses ini dikenal dengan istilah Euthanasia (Fahrezi & Michael, 2024).