Kesenian

Di Balik Gemerlap Lumajang Carnival, Anak-anak Belajar Mencintai Budaya

avatar Indana Zulfa
  • URL berhasil dicopy
Doc : Kominfo Lumajang
Doc : Kominfo Lumajang

Lumajang - Bagi sebagian masyarakat, Lumajang Carnival 2026 barangkali sebatas panggung hiburan di ruang terbuka. Namun, di balik riuh tepuk tangan dan warna-warni parade, ada proses lain yang berlangsung lebih senyap: anak-anak berkenalan dengan seni dan budaya daerah melalui pengalaman yang nyata.

 

Gelaran untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu berlangsung di Kabupaten Lumajang, Sabtu (29/8/2026). Sebanyak 32 peserta ambil bagian, menghadirkan beragam atraksi, mulai dari drumband, tari-tarian, pakaian adat, hingga kreasi budaya lainnya.

 

Sepanjang rute parade, masyarakat berdiri menyaksikan rombongan peserta yang silih berganti menampilkan kreativitas. Seni dan budaya yang selama ini kerap hadir melalui buku, panggung pertunjukan, atau layar gawai, kali ini hadir di tengah kerumunan dan dapat disaksikan secara langsung.

 

Bagi Johan Adrian Bayu Samudra (23), warga Desa Karangsari, kemeriahan itu menjadi hiburan tersendiri. Ia mengaku senang dapat menyaksikan karnaval secara langsung.

 

“Sangat meriah. Penampilannya bagus dan kreatif. Kami sebagai masyarakat tentu senang bisa melihat hiburan seperti ini, apalagi ada unsur seni dan budaya Lumajang,” ujarnya.

 

Kegembiraan serupa dirasakan Sabillah Nur Salim (30), yang datang bersama keluarganya. Baginya, karnaval bukan sekadar tontonan. Kehadiran anak-anak di tengah parade justru membuka kesempatan untuk mengenalkan seni dan budaya daerah dengan cara yang lebih menyenangkan.

 

 “Anak-anak juga senang melihat drumband dan tari-tarian. Jadi tidak hanya menghibur, tetapi mereka juga bisa belajar mengenal budaya daerah,” katanya.

 

Di titik inilah ruang publik menemukan fungsi lain. Keramaian tidak selalu berarti sekadar hiburan. Bagi anak-anak, parade dapat berubah menjadi ruang belajar yang berlangsung tanpa papan tulis dan tanpa buku pelajaran.

 

Mereka melihat kostum, mendengar musik, menyaksikan gerak tari, sekaligus berinteraksi dengan beragam bentuk ekspresi budaya. Pengalaman semacam itu dapat menumbuhkan rasa ingin tahu yang sulit diperoleh hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.

 

Budaya, pada akhirnya, bukan sekadar pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia juga perlu dialami. Melihat pertunjukan secara langsung dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal tradisi, pakaian adat, musik, tari, hingga cerita yang membentuk identitas daerah.

 

Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma mengatakan Lumajang Carnival diharapkan menjadi momentum untuk kembali menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah.

 

 “Ini merupakan ajang membangkitkan budaya, mengajak masyarakat mencintai budaya,” tuturnya.

 

Bupati Lumajang Indah Amperawati turut mengapresiasi kreativitas para peserta yang memasukkan berbagai unsur seni dan budaya ke dalam parade. Menurutnya, kegiatan semacam itu tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan daerah.

 

Maka, ukuran keberhasilan Lumajang Carnival tidak berhenti pada meriahnya parade, banyaknya penonton, atau beragamnya atraksi yang ditampilkan. Ada warisan yang lebih panjang yang sedang dibangun di tengah kerumunan.

 

Anak-anak melihat. Mereka bertanya. Mereka mengenal.

 

Dari pengalaman sederhana itulah rasa memiliki terhadap budaya dapat tumbuh. Ketika seni dan tradisi dibawa ke ruang yang dekat dengan masyarakat, pelestarian budaya tak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak.

 

Sebab, boleh jadi, di antara ribuan pasang mata yang menyaksikan Lumajang Carnival hari itu, ada anak-anak yang kelak menjadi generasi penerus yang bukan hanya mengenal budaya Lumajang, tetapi juga memilih untuk menjaganya (Red).