32 Peserta

Ketika Jalanan Lumajang Menjadi Panggung Budaya

avatar Indana Zulfa
  • URL berhasil dicopy
Salah satu penampilan peserta Lumajang Carnival
Salah satu penampilan peserta Lumajang Carnival

Lumajang - Jalanan Kabupaten Lumajang berubah menjadi panggung budaya ketika 32 peserta menampilkan beragam kreasi dalam Lumajang Carnival 2026, Sabtu (29/8/2026). Di tengah gemerlap kostum, kendaraan hias, dentum musik, dan atraksi, seni tradisi Lumajang mendapat ruang untuk kembali menyapa masyarakat.

 

Gelaran dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu tidak sekadar menawarkan tontonan. Berbagai unsur seni dan budaya yang dibawa ke dalam parade menjadi cara untuk memperkenalkan kembali kekayaan daerah melalui kemasan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama generasi muda.

 

Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma mengatakan karnaval tersebut menjadi salah satu momentum untuk membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah.

 

“Ini merupakan ajang membangkitkan budaya, mengajak masyarakat mencintai budaya,” tuturnya.

 

Sepanjang parade, seni tari, pakaian adat, musik, hingga berbagai kreasi budaya tampil di ruang terbuka. Masyarakat dari berbagai kalangan menyaksikan pertunjukan itu dari sepanjang rute.

 

Kehadiran seni di ruang publik membuat budaya tidak berhenti sebagai bagian dari agenda seremonial. Ia hadir sebagai pengalaman yang dapat dilihat, didengar, dan dinikmati secara langsung oleh masyarakat.

 

Bagi sebuah daerah, seni dan budaya bukan sekadar pertunjukan. Di dalamnya tersimpan identitas, cerita, nilai, serta jejak kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, menjaga budaya bukan hanya soal mempertahankan bentuknya, tetapi juga memastikan warisan tersebut tetap dikenal dan memiliki tempat dalam kehidupan generasi berikutnya.

 

Di sinilah ruang publik memiliki peran. Ketika tradisi dibawa mendekat kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, jarak antara mereka dengan warisan budayanya menjadi lebih pendek. Pengalaman menyaksikan pertunjukan secara langsung dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus kebanggaan terhadap budaya sendiri.

 

Bupati Lumajang Indah Amperawati mengapresiasi kreativitas para peserta yang menghadirkan berbagai unsur seni dan budaya dalam Lumajang Carnival. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi hiburan sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan budaya Lumajang kepada masyarakat.

 

Kreativitas dalam parade juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus berlangsung dalam ruang pertunjukan formal. Tradisi dapat dibawa ke jalanan, bertemu dengan masyarakat, dan dikemas mengikuti perkembangan zaman tanpa harus kehilangan identitasnya.

 

Cara semacam itu sekaligus memberi ruang bagi para pelaku seni untuk terus berekspresi. Mereka bukan sekadar menjadi penjaga warisan masa lalu, melainkan juga memiliki kesempatan mencari bentuk baru agar seni dan tradisi tetap menarik untuk dinikmati generasi hari ini.

 

Lumajang Carnival menjadi pertemuan antara tradisi dan kreativitas. Warisan masa lalu memperoleh panggung baru, sementara generasi masa kini mendapat kesempatan untuk mengenalnya dalam suasana yang lebih meriah dan dekat dengan keseharian.

 

Upaya semacam itu penting karena keberlangsungan budaya tidak hanya ditentukan oleh mereka yang mewariskannya, tetapi juga oleh generasi yang datang kemudian. Tanpa generasi yang mengenal dan mencintainya, sebuah tradisi berisiko kehilangan ruang dalam kehidupan masyarakat.

 

Dari jalanan Lumajang, pesan itu tampak sederhana: ketika budaya diberi ruang untuk tampil, masyarakat memperoleh kesempatan untuk mengenali kembali akar identitasnya.

 

Karena itu, Lumajang Carnival tidak semata tentang kemeriahan parade. Setelah musik berhenti dan rombongan peserta meninggalkan jalanan, ada pekerjaan yang lebih panjang: memastikan seni dan budaya Lumajang tetap hidup, dikenal generasi muda, dan tumbuh sebagai bagian dari kebanggaan masyarakatnya (Red).