Pemerintah dalam balutan karnaval

Lumajang Carnival, Etalase Kerja Pemerintah

avatar Indana Zulfa
  • URL berhasil dicopy
Saat Pelayanan Publik Berparade
Saat Pelayanan Publik Berparade

Lumajang - Lumajang Carnival 2026 bukan sekadar parade seni dan kreativitas. Di sepanjang jalan utama Kabupaten Lumajang, sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) justru membawa pekerjaan mereka ke tengah kerumunan. Pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, hingga potensi pertanian dikemas menjadi atraksi agar lebih dekat dan mudah dipahami masyarakat.

 

Sebanyak 32 peserta ambil bagian dalam Lumajang Carnival yang digelar untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu (29/8/2026). Setiap peserta membawa konsep yang disesuaikan dengan tugas, karakteristik, dan potensi yang dimiliki.

 

Hasilnya, parade tidak berhenti sebagai tontonan. Di balik kendaraan hias dan atraksi yang melintas, masyarakat sekaligus memperoleh gambaran tentang apa yang dikerjakan pemerintah daerah.

 

Salah satu yang mencuri perhatian datang dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang. Sebuah traktor yang sehari-hari bekerja di lahan pertanian disulap menjadi kendaraan hias. Di atasnya, berbagai hasil bumi dipajang, mulai dari buah-buahan hingga sayuran.

 

Hasil pertanian itu kemudian dibagikan kepada masyarakat yang berada di sepanjang rute. Atraksi tersebut menjadi cara sederhana untuk menunjukkan potensi pertanian Lumajang sekaligus mendekatkannya kepada warga.

 

Pesan berbeda dibawa Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lumajang. Melalui atraksi Ngapling atau Ngaspal Keliling, aktivitas pembangunan infrastruktur jalan diterjemahkan ke dalam sebuah pertunjukan.

 

Pekerjaan yang biasanya berlangsung di balik pagar proyek atau di ruas jalan yang sedang dibangun, kali ini tampil sebagai bagian dari parade. Masyarakat dapat melihat sisi lain pekerjaan pemerintah yang sehari-hari mereka temui dalam bentuk jalan yang diperbaiki, diaspal, atau dirawat.

 

Pendekatan semacam ini membuat komunikasi pemerintah berlangsung dengan cara yang lebih cair. Informasi tidak hanya disampaikan melalui rapat, pengumuman, atau kanal resmi, tetapi juga melalui ruang publik yang dipenuhi masyarakat.

 

Bupati Lumajang Indah Amperawati mengapresiasi kreativitas seluruh peserta, terutama OPD dan kecamatan yang menjadikan karnaval sebagai sarana memperkenalkan pekerjaan sekaligus potensi daerah.

 

“Saya sangat mengapresiasi seluruh OPD dan kecamatan yang sudah menampilkan kreativitasnya. Mereka tidak hanya hadir untuk memeriahkan karnaval, tetapi juga menunjukkan apa yang mereka kerjakan, apa yang mereka layani, dan apa yang menjadi potensi Kabupaten Lumajang,” ujar Bunda Indah.

 

Menurutnya, kemasan tersebut membuat masyarakat dapat melihat berbagai sisi pembangunan daerah tanpa harus berada dalam suasana formal.

 

“Kita ingin masyarakat menikmati kemeriahan HUT Kemerdekaan, tetapi di sisi lain masyarakat juga bisa melihat bahwa pemerintah bekerja untuk mereka. Melalui karnaval ini, kita tampilkan potensi pertanian, pembangunan infrastruktur, kebudayaan, pelayanan, dan berbagai potensi lainnya yang dimiliki Lumajang,” ungkapnya.

 

Di titik ini, karnaval berubah fungsi menjadi semacam etalase terbuka pemerintah daerah. Pekerjaan yang selama ini berjalan di balik layar dipertontonkan dalam bentuk visual dan atraksi yang lebih mudah ditangkap masyarakat.

 

Ada pertanian yang terus dikembangkan. Ada jalan yang dibangun dan dirawat. Ada kebudayaan yang dipelihara. Ada pelayanan publik yang berjalan. Semuanya dirangkai menjadi satu parade.

 

Cara tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelayanan publik memiliki wajah yang beragam. Tidak semua pekerjaan pemerintah hadir dalam bentuk kantor, meja pelayanan, atau dokumen administrasi. Sebagian hadir dalam bentuk jalan yang lebih layak dilalui, hasil pertanian yang berkembang, ruang budaya yang terjaga, dan program yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.

 

Bagi pemerintah, momentum ini menjadi kesempatan untuk menjelaskan pekerjaannya tanpa bahasa birokrasi yang kaku. Bagi masyarakat, parade menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat apa yang dikerjakan pemerintah untuk daerah mereka.

 

Lumajang Carnival pun menemukan fungsi lain di luar kemeriahan perayaan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah dan masyarakat, tempat pekerjaan pembangunan “bercerita” melalui kreativitas.

 

Sebab, pembangunan tidak cukup hanya dikerjakan. Ia juga perlu dikomunikasikan.

 

Dan di tengah jalanan yang penuh musik, warna-warni kostum, serta sorak masyarakat itu, pemerintah Lumajang memilih satu cara sederhana untuk bercerita: menunjukkan langsung apa yang mereka kerjakan (Red).