Pengabdian masyarakat
Pesta Rakyat Mengguncang Kedungmoro, KKN STKIP PGRI Lumajang Hidupkan Semangat Kemerdekaan
Desa Kedungmoro, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang, berubah menjadi pusat keramaian selama perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Rangkaian pesta rakyat yang digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STKIP PGRI Lumajang berhasil menghidupkan suasana desa sekaligus mempertemukan warga dalam berbagai kegiatan yang meriah.
Selama berminggu-minggu, berbagai agenda digelar dengan melibatkan masyarakat dari berbagai kelompok usia. Bukan sekadar hiburan, rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan sekaligus memberikan kesempatan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat untuk memasarkan produk mereka di sekitar lokasi kegiatan.
Antusiasme warga terlihat dari luasnya partisipasi masyarakat. Setiap RT di Desa Kedungmoro didorong mengirimkan tim terbaik untuk mengikuti berbagai cabang perlombaan, baik kategori putra maupun putri. Ratusan peserta dari berbagai kelompok usia pun ikut ambil bagian.
Babak penyisihan berlangsung pada 18–23 Agustus, mulai pukul 19.00 WIB. Setiap malam, arena perlombaan dipenuhi warga yang datang memberikan dukungan kepada tim dari lingkungan masing-masing.
Beragam perlombaan menjadi magnet keramaian. Lomba voli terpal, misalnya, menghadirkan suasana penuh gelak tawa. Sementara tarik tambang putra dan putri berlangsung sengit, mempertemukan kekuatan fisik sekaligus kekompakan antartim.
Memasuki agenda berikutnya, Lapangan Utama Desa Kedungmoro menjadi pusat kegiatan pada 28–29 Agustus. Mulai pukul 13.00 WIB, lapangan dipenuhi anak-anak yang mengikuti sejumlah perlombaan dalam suasana penuh keceriaan.
Empat cabang lomba digelar, terdiri atas kategori tim dan individu. Pada kategori tim, peserta beradu kekompakan dalam estafet karet dan memasukkan paku ke dalam botol. Sementara kategori individu diisi lomba makan kerupuk dan memasukkan sedotan ke dalam botol.
Sorak-sorai penonton mengiringi setiap perlombaan. Tepi lapangan dipadati warga yang menyaksikan anak-anak mereka berlomba. Lapangan desa pun berubah menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, tempat warga bertemu, tertawa, dan merayakan kemerdekaan bersama.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada 30 Agustus melalui malam pembagian hadiah bagi para pemenang. Agenda tersebut dikemas bersama hiburan rakyat berupa elektun yang menambah semarak suasana.
Selain menjadi ruang hiburan, kegiatan tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi UMKM lokal. Warga yang datang dapat menikmati berbagai sajian kuliner dan membeli produk usaha masyarakat sekitar lokasi acara.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui malam perpisahan mahasiswa KKN pada 3 September. Suasana berlangsung lebih haru ketika para mahasiswa menampilkan tari persembahan sekaligus menyampaikan laporan hasil pelaksanaan program kerja selama menjalankan pengabdian di Desa Kedungmoro.
Pertemuan terakhir itu menjadi ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk saling menyampaikan kesan dan pesan setelah berminggu-minggu beraktivitas bersama. Perangkat desa dan warga turut hadir mengantar mahasiswa sebelum mereka menyelesaikan masa pengabdian dan kembali ke kampus.
Rangkaian pesta rakyat di Kedungmoro memperlihatkan bahwa perayaan kemerdekaan dapat menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ketika masyarakat dilibatkan sejak persiapan hingga pelaksanaan, perayaan dapat menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas, menghidupkan lingkungan desa, sekaligus membuka kesempatan bagi ekonomi lokal untuk bergerak.
Bagi mahasiswa KKN STKIP PGRI Lumajang, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pengalaman pengabdian di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi ikut menciptakan ruang kebersamaan yang meninggalkan cerita bagi warga Kedungmoro.
Dari lapangan desa hingga panggung hiburan, semangat kemerdekaan hadir dalam bentuk yang sederhana: warga berkumpul, anak-anak bermain, pemuda berlomba, pelaku UMKM berdagang, dan mahasiswa berbaur bersama masyarakat.
Kedungmoro pun merayakan kemerdekaan bukan hanya dengan kemeriahan, tetapi juga dengan kebersamaan yang tumbuh dari warga untuk warga (Red).
Editor : Redaksi