Edukasi

Polisi Sahabat Anak, Satlantas Lumajang Tanamkan Budaya Keselamatan Sejak Dini

avatar Indana Zulfa
  • URL berhasil dicopy
Peserta didik Alethea Lumajang foto bersama anggota Unit Kamsel Satlantas Polres Lumajang usai mengikuti edukasi tertib dan keselamatan berlalu lintas melalui program Polisi Sahabat Anak
Peserta didik Alethea Lumajang foto bersama anggota Unit Kamsel Satlantas Polres Lumajang usai mengikuti edukasi tertib dan keselamatan berlalu lintas melalui program Polisi Sahabat Anak

Lumajang  – Jalan raya bukan ruang yang aman jika aturan hanya dipahami oleh mereka yang mengendarai kendaraan. Keselamatan justru perlu dikenalkan sejak seseorang belum diperbolehkan memegang kemudi.

 

Pesan itu yang dibawa Unit Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) Satlantas Polres Lumajang melalui program Polisi Sahabat Anak. Sejumlah peserta didik TK/SD Alethea Lumajang diajak mengenal aturan dasar berlalu lintas saat berkunjung ke Kantor Satlantas Polres Lumajang, Jumat (11/9/2026).

 

Di hadapan anak-anak, polisi tidak sekadar berbicara soal larangan dan aturan. Edukasi dikemas dengan cara sederhana agar mudah dipahami, mulai dari mengenali rambu hingga memahami cara menjaga keselamatan ketika berada di jalan.

 

Anggota Unit Kamsel Satlantas Polres Lumajang, Aiptu Rima Mayangga Rivasari, mengenalkan sejumlah rambu lalu lintas beserta fungsi dan maknanya. Anak-anak juga diajak memahami posisi mereka sebagai pengguna jalan, baik ketika berjalan kaki maupun saat menjadi penumpang kendaraan.

Salah satu pesan yang ditekankan adalah penggunaan helm. Anak-anak diingatkan agar tetap mengenakan helm yang sesuai dan terpasang dengan benar ketika dibonceng orangtua atau orang dewasa menggunakan sepeda motor.

 

“Edukasi tertib lalu lintas ini kami berikan sejak dini agar anak-anak memahami bahwa keselamatan merupakan hal yang paling utama saat berada di jalan,” kata Rima.

 

Bagi polisi, anak-anak memang belum menjadi pengendara. Namun mereka merupakan calon pengguna jalan yang kelak akan berhadapan langsung dengan berbagai risiko lalu lintas. Karena itu, pengetahuan tentang keselamatan dinilai perlu ditanamkan jauh sebelum mereka memiliki SIM.

 

Rima berharap pengetahuan tersebut juga dibawa pulang dan menjadi pengingat bagi keluarga.

 

“Harapannya, anak-anak bisa memahami pentingnya menggunakan helm dengan baik dan benar serta mengenal rambu-rambu lalu lintas. Mereka juga bisa mengingatkan orangtuanya untuk selalu mengutamakan keselamatan,” ujarnya.

 

Mengenal SIM Sejak Bangku Sekolah

 

Edukasi tidak berhenti pada rambu dan helm. Petugas juga mengenalkan secara sederhana mekanisme penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM).

 

Anak-anak diperkenalkan pada pemahaman bahwa mengendarai kendaraan bermotor bukan sekadar bisa mengemudi. Ada persyaratan, kemampuan, serta ketentuan yang harus dipenuhi sebelum seseorang memperoleh SIM.

 

Cara penyampaian yang interaktif membuat anak-anak tidak hanya menjadi pendengar. Mereka diajak berkomunikasi dan merespons berbagai situasi yang mungkin ditemui ketika berada di jalan.

 

Unit Kamsel juga membagikan brosur imbauan tertib berlalu lintas kepada kepala sekolah dan guru. Materi tersebut diharapkan menjadi bekal tambahan untuk diteruskan kepada peserta didik maupun orangtua.

 

Menurut Rima, membangun budaya keselamatan tidak bisa dibebankan hanya kepada polisi. Sekolah dan keluarga memiliki posisi penting karena sebagian besar kebiasaan anak terbentuk dari lingkungan terdekatnya.

 

“Sekolah dan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan anak. Ketika sejak kecil sudah dibiasakan tertib dan mengutamakan keselamatan, diharapkan kebiasaan tersebut terbawa sampai mereka dewasa,” katanya.

 

Program Polisi Sahabat Anak menjadi salah satu cara Satlantas Polres Lumajang membangun kesadaran berlalu lintas dari hulu. Edukasi dilakukan sebelum anak menjadi pengendara, sebelum mengenal kecepatan, dan sebelum berhadapan langsung dengan risiko kecelakaan.

 

Upaya tersebut diharapkan ikut menekan pelanggaran lalu lintas sekaligus meminimalkan fatalitas kecelakaan. Kesadaran yang tumbuh sejak dini diharapkan berkembang menjadi kebiasaan ketika anak beranjak dewasa.

 

Pada akhirnya, pelajaran yang dibawa pulang para peserta didik bukan hanya tentang rambu atau helm. Mereka belajar satu hal yang lebih mendasar: jalan raya digunakan bersama, sehingga keselamatan juga menjadi tanggung jawab bersama (Red)