Opini Akademisi

Pencak Sholat : Ketika Bela Diri Menjadi Jalan Konseling Spiritual

Reporter : Redaksi
Bambang Subahri, Dosen UNISYA Lumajang yang mendapat Beasiswa Penelitian dari Kementerian Kebudayaan RI

“Pencak Silat menghadapi orang lain, Pencak Sholat menaklukkan diri sendiri.”. Kalimat Cak Uber itu sederhana, tetapi menyimpan cara pandang yang menarik tentang Pencak Sholat. Jika pencak silat pada umumnya dipahami sebagai seni bela diri untuk menghadapi lawan, Pencak Sholat justru mengarahkan seseorang untuk berhadapan dengan dirinya sendiri. Lawan yang harus ditaklukkan bukan orang lain, melainkan amarah, kesombongan, ketakutan, hawa nafsu, dan berbagai dorongan dalam diri yang sulit dikendalikan.

Di sinilah Pencak Sholat menjadi lebih dari sekadar rangkaian gerak bela diri. Ia merupakan praktik budaya-spiritual yang hidup di tengah masyarakat Pandalungan. Di dalamnya terdapat pertemuan antara gerak tubuh, latihan kedisiplinan, doa, ritual keagamaan, dan pembentukan batin.

Baca juga: Dosen Unisya Teliti Warisan Budaya Pencak Sholat Lumajang, Raih Award Kementerian Kebudayaan

Pencak Sholat karena itu tidak cukup dipahami sebagai perpaduan antara pencak silat dan salat. Di balik gerakannya terdapat proses pendidikan diri. Tubuh dilatih agar terkendali, pikiran diarahkan agar lebih tenang, dan kehidupan batin dibentuk melalui nilai-nilai spiritual. Dari sinilah Pencak Sholat menarik untuk dibaca dalam perspektif konseling spiritual.

Dari Pencak Silat ke Pencak Sholat

Pada dasarnya, pencak silat mengajarkan seseorang menghadapi kemungkinan ancaman dari luar. Tubuh dilatih agar mampu bergerak, bertahan, menghindar, dan menghadapi lawan. Ada keberanian, ketangkasan, kekuatan, dan kemampuan mengendalikan tubuh.

Pencak Sholat membawa orientasi tersebut ke arah yang berbeda. Pertarungan tidak lagi terutama diarahkan kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri. Kemampuan bela diri tidak hanya diukur dari seberapa kuat seseorang menghadapi lawan, tetapi juga dari seberapa mampu ia mengendalikan dirinya.

Perubahan orientasi ini penting. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan kekuatan fisik. Seseorang mungkin mampu menghadapi orang lain, tetapi belum tentu mampu mengendalikan kemarahannya sendiri. Ia mungkin memiliki kekuatan tubuh, tetapi belum tentu memiliki ketenangan batin.

Pencak Sholat mempertemukan latihan fisik dan spiritualitas dalam satu proses. Gerakan tubuh tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki hubungan dengan doa, ritual, dan pembentukan kesadaran. Tubuh menjadi medium untuk membangun kedisiplinan, sementara spiritualitas memberikan arah bagi penggunaan kekuatan tersebut.

Dengan demikian, Pencak Sholat memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal mengintegrasikan tubuh, spiritualitas, dan kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tentang tubuh tidak dipisahkan secara kaku dari pengetahuan tentang kehidupan batin.

Tradisi Spiritual Masyarakat Pandalungan

Pencak Sholat merupakan bagian dari pengetahuan budaya yang diwariskan dalam kehidupan masyarakat Pandalungan. Tradisi ini tidak hanya dipelajari sebagai teknik gerak, tetapi juga melalui proses pembelajaran yang sarat dengan nilai spiritual.

Dalam proses tersebut, guru atau kiai memiliki peranan penting. Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana tubuh bergerak, tetapi juga bagaimana seseorang bersikap, menjalani disiplin, memahami makna ritual, dan mengendalikan dirinya. Proses belajar karena itu tidak semata-mata bersifat teknis. Ada hubungan guru dan murid yang memungkinkan nilai-nilai tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Praktik Pencak Sholat juga tidak dapat dilepaskan dari suasana spiritual. Doa, ritual, dan pembiasaan menjadi bagian dari proses pembelajaran. Bahkan, waktu pelaksanaan yang dilakukan dalam suasana malam memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan latihan bela diri pada umumnya.

Hal yang penting adalah bahwa unsur spiritual tersebut bukan sekadar tambahan setelah latihan fisik selesai. Spiritualitas justru melekat dalam keseluruhan proses. Gerak tubuh, disiplin, doa, relasi dengan guru, dan pembentukan sikap menjadi satu kesatuan pengalaman.

Karena itu, Pencak Sholat dapat dibaca sebagai salah satu cara masyarakat Pandalungan memahami hubungan antara tubuh dan kehidupan spiritual.

Tubuh sebagai Jalan Menuju Ketenangan Batin

Ada satu hal yang menarik dari Pencak Sholat: jalan menuju ketenangan batin justru dimulai dari tubuh.

Latihan pencak membutuhkan konsentrasi, ketekunan, disiplin, pengendalian napas, dan kemampuan mengendalikan respons tubuh. Seseorang tidak dapat melakukan gerakan dengan baik jika pikirannya tidak hadir dalam latihan. Tubuh yang tidak terkendali juga akan menghasilkan gerakan yang tidak terarah.

Dalam konteks Pencak Sholat, latihan tersebut bertemu dengan praktik seperti wudu, ruku, dan sujud. Gerakan-gerakan tersebut dapat dipahami bukan hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi sebagai bagian dari pengalaman spiritual yang mempertemukan tubuh dan kesadaran.

Di sinilah tubuh menjadi lebih dari sekadar objek latihan. Tubuh menjadi sarana untuk membangun kesadaran diri.

Pengendalian tubuh secara perlahan diarahkan pada pengendalian diri. Seseorang belajar menahan gerak yang tidak perlu, mengatur respons, menjaga konsentrasi, dan mengikuti aturan. Dalam proses yang berulang, disiplin fisik dapat berkembang menjadi disiplin batin.

Dengan kata lain, Pencak Sholat mengajarkan bahwa ketenangan tidak selalu dimulai dari pikiran. Ia dapat dimulai dari tubuh yang dilatih untuk tertib dan terkendali.

Ketika Pencak Menjadi Konseling Spiritual

Di sinilah perspektif konseling spiritual menjadi menarik.

Konseling spiritual pada dasarnya tidak hanya berbicara tentang penyelesaian masalah, tetapi juga membantu seseorang menemukan makna, ketenangan, arah hidup, dan kekuatan dalam menghadapi persoalan melalui dimensi spiritual. Konseling semacam ini melihat manusia bukan hanya sebagai makhluk psikologis, tetapi juga sebagai makhluk yang memiliki kebutuhan akan makna dan hubungan spiritual.

Jika dilihat dari perspektif tersebut, Pencak Sholat memiliki sejumlah proses yang dapat berfungsi sebagai penguatan kehidupan batin. Kesadaran terhadap tubuh, kedisiplinan latihan, pengendalian diri, doa dan ritual spiritual, serta refleksi terhadap kehidupan menjadi bagian dari proses pembentukan diri.

Pencak Sholat tidak secara eksplisit menyebut dirinya sebagai konseling. Para pelakunya pun mungkin tidak menggunakan istilah tersebut. Namun, sebuah praktik budaya tidak harus menggunakan istilah konseling untuk memiliki fungsi yang bersifat konseling.

Ketika seseorang dilatih untuk mengenali dirinya, mengendalikan dorongan emosional, membangun kedisiplinan, menemukan ketenangan, dan menghubungkan pengalaman hidup dengan nilai spiritual, di dalamnya terdapat proses pertolongan terhadap kehidupan batin.

Karena itu, Pencak Sholat dapat dipahami sebagai praktik spiritual yang memiliki fungsi konseling, meskipun bukan konseling profesional.

Baca juga: Pelatihan Content Creator Sinergi Komdigi, Pemkab Lumajang dan UNISYA Siapkan SDM Digital Mumpuni

Menaklukkan Diri Sendiri

Kembali pada ungkapan Cak Uber, “Pencak Silat menghadapi orang lain, Pencak Sholat menaklukkan diri sendiri.”

Kalimat ini sesungguhnya dapat menjadi kunci untuk memahami keseluruhan filosofi Pencak Sholat.

Manusia memiliki banyak “lawan” yang tidak selalu terlihat. Amarah, kesombongan, ketakutan, hawa nafsu, ego, dan ketidakmampuan mengendalikan diri sering kali justru menjadi persoalan yang lebih sulit daripada menghadapi orang lain.

Karena itu, kemampuan seseorang bukan hanya ditentukan oleh kekuatan fisiknya, tetapi juga oleh kemampuannya mengendalikan dirinya. Dalam bahasa psikologi, hal ini berdekatan dengan gagasan tentang kesadaran diri dan pengendalian diri. Dalam perspektif spiritual, ia berkaitan dengan proses pembentukan batin dan pencarian ketenangan.

Pencak Sholat dengan demikian mengubah makna bela diri. Bela diri tidak lagi hanya berarti kemampuan menghadapi dunia luar, tetapi juga kemampuan menjaga diri dari dorongan-dorongan internal yang dapat merusak diri sendiri maupun orang lain.

Guru, Kiai, dan Proses Pendampingan

Di balik proses tersebut terdapat peran guru atau kiai. Pencak Sholat tidak hanya diwariskan melalui gerakan, tetapi juga melalui keteladanan.

Guru mengajarkan teknik, tetapi pada saat yang sama mengajarkan sikap. Ia membentuk kebiasaan, mengarahkan kedisiplinan, menjelaskan makna spiritual, dan memberi contoh bagaimana kekuatan seharusnya digunakan.

Relasi guru dan murid menjadi bagian penting dari proses pembentukan diri. Seorang murid tidak hanya belajar bagaimana bergerak, tetapi juga belajar bagaimana menjadi pribadi yang lebih terkendali.

Dalam konteks inilah guru atau kiai dapat berfungsi sebagai pendamping spiritual. Pendampingan tersebut tidak selalu berlangsung dalam bentuk nasihat formal. Ia dapat berlangsung melalui pembiasaan, keteladanan, latihan, dan relasi yang terus menerus.

Aspek ini memperlihatkan bahwa proses pembentukan batin dalam Pencak Sholat tidak berlangsung secara individual semata. Ada komunitas, ada guru, dan ada nilai-nilai yang diwariskan.

Pencak Sholat dan Kesehatan Batin

Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, kegelisahan, konflik, dan kelelahan mental, pencarian terhadap ketenangan batin menjadi semakin penting. Berbagai pendekatan kesehatan mental berusaha membantu manusia menemukan cara untuk menghadapi tekanan kehidupan dan membangun kesejahteraan psikologis.

Pencak Sholat menawarkan perspektif yang tumbuh dari kebudayaan sendiri. Ketenangan tidak hanya dicari melalui pikiran, tetapi juga dilatih melalui tubuh, disiplin, relasi sosial, dan spiritualitas.

Baca juga: UNISYA Lumajang Lantik Pimpinan dan Karyawan Periode 2025 – 2029

Di sinilah tradisi lokal menjadi penting. Ia bukan sekadar peninggalan masa lalu yang perlu dipertontonkan, tetapi juga dapat menjadi sumber pengetahuan untuk memahami bagaimana masyarakat membentuk dirinya.

Pencak Sholat menunjukkan bahwa kesehatan batin dapat dibangun melalui praktik yang sederhana: mengatur tubuh, menjaga disiplin, belajar mengendalikan diri, membangun hubungan dengan guru dan komunitas, serta mendekatkan diri kepada Tuhan.

Bukan Pengganti Psikolog atau Konselor

Namun, membaca Pencak Sholat sebagai praktik yang memiliki fungsi konseling spiritual tidak berarti menjadikannya pengganti psikolog atau konselor profesional.

Pencak Sholat bukan terapi psikologis untuk semua persoalan. Konseling profesional memiliki pendidikan, kompetensi, metode, kode etik, dan batas kewenangan yang jelas. Ketika seseorang menghadapi persoalan psikologis yang serius, tetap diperlukan bantuan tenaga profesional.

Pencak Sholat lebih tepat dipahami sebagai praktik budaya-spiritual yang memiliki potensi untuk memperkuat ketahanan dan kesehatan batin, terutama melalui pengendalian diri, kedisiplinan, makna spiritual, dan relasi sosial.

Karena itu, yang diperlukan bukan mempertentangkan kearifan lokal dengan ilmu konseling modern. Justru keduanya dapat dipertemukan. Ilmu konseling dapat membantu menjelaskan dimensi psikologis dari praktik budaya, sementara tradisi lokal dapat memberikan perspektif kontekstual tentang bagaimana manusia membangun ketenangan dan makna hidup.

Menjaga Pengetahuan Lokal

Pencak Sholat pada akhirnya bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia adalah pengetahuan lokal tentang hubungan antara tubuh, jiwa, spiritualitas, dan kehidupan sosial.

Tantangannya adalah bagaimana tradisi semacam ini didokumentasikan dan dipahami tanpa mereduksinya menjadi sekadar pertunjukan budaya. Ketika sebuah tradisi hanya dilihat dari bentuk luarnya, makna yang terkandung di dalamnya dapat perlahan hilang.

Pencak Sholat perlu dipahami bersama masyarakat pendukungnya, termasuk nilai, pengalaman, ritual, relasi guru-murid, dan pandangan hidup yang menyertainya.

Sebab, di balik gerakan pencak terdapat pelajaran tentang manusia. Bahwa kekuatan bukan hanya kemampuan untuk mengalahkan orang lain. Kekuatan juga berarti kemampuan mengendalikan diri.

Dan mungkin, di tengah kehidupan yang semakin bising, manusia tidak selalu membutuhkan cara baru untuk melawan dunia. Ia justru membutuhkan cara untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Pencak Sholat, dengan segala kesederhanaan tradisinya, mengajarkan bahwa perjalanan menuju ketenangan itu dapat dimulai dari tubuh, gerakan, disiplin, dan akhirnya sampai pada batin.*

*Penulis : Bambang Subahri, S.Psi., M.Si, Kaprodi Bimbingan dan Konseling Islam, Universitas Islam Syarifuddin (UNISYA) Lumajang Penerima Beasiswa Penelitian Kementerian Kebudayaan RI

Editor : Redaksi

Politik dan Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru