Lomba

KKN STKIP PGRI Lumajang Gelar Lomba TPQ, Dorong Penguatan Karakter dan Literasi Keagamaan Santri Desa Sukosari

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Foto bersama peserta dan panitia Lomba TPQ Desa Sukosari bersama mahasiswa KKN STKIP PGRI Lumajang, dewan juri, serta pengurus TPQ.
Foto bersama peserta dan panitia Lomba TPQ Desa Sukosari bersama mahasiswa KKN STKIP PGRI Lumajang, dewan juri, serta pengurus TPQ.

Lumajang -  Semangat belajar dan berkompetisi mewarnai kegiatan Lomba Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) tingkat Desa Sukosari yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STKIP PGRI Lumajang. Kegiatan tersebut menjadi salah satu program kerja di bidang pendidikan dan keagamaan sekaligus ruang bagi para santri untuk mengasah kemampuan, membangun kepercayaan diri, serta menumbuhkan karakter positif sejak dini.

 

Lomba yang diikuti santri TPQ setingkat SD/MI dari berbagai TPQ di Desa Sukosari itu mempertandingkan tiga cabang, yakni Tartil Al-Qur’an, Hafalan Al-Qur’an (Tahfidz), dan Cerdas Cermat Keagamaan.

 

Ketiga cabang dirancang dengan bentuk pelaksanaan yang berbeda. Tartil Al-Qur’an dan Tahfidz dilaksanakan secara individu, sementara Cerdas Cermat Keagamaan dilakukan secara berkelompok. Perbedaan format tersebut disesuaikan dengan karakteristik kompetensi yang ingin dikembangkan pada masing-masing peserta.

 

Pada cabang Tartil Al-Qur’an, para santri diuji kemampuan membaca Al-Qur’an secara baik dan benar dengan memperhatikan ketepatan bacaan, tajwid, makhraj, serta kelancaran. Di hadapan dewan juri, peserta tidak hanya dituntut mampu membaca dengan tepat, tetapi juga menunjukkan keberanian dan ketenangan saat tampil.

 

Proses tersebut menjadi pengalaman penting bagi anak untuk melatih ketelitian, kesabaran, kedisiplinan, dan kepercayaan diri. Nilai-nilai itu diharapkan tidak berhenti di arena perlombaan, tetapi turut terbawa dalam aktivitas belajar dan kehidupan sehari-hari.

 

Sementara itu, cabang Hafalan Al-Qur’an (Tahfidz) menguji kemampuan santri dalam menghafal dan melafalkan ayat atau surah yang telah ditentukan. Persiapan menuju perlombaan mendorong peserta membangun kebiasaan belajar secara konsisten, tekun, dan disiplin. Santri juga belajar memahami bahwa kemampuan menghafal membutuhkan proses, kesungguhan, serta tanggung jawab untuk menjaga hafalan.

 

Suasana berbeda terlihat pada cabang Cerdas Cermat Keagamaan. Dalam kompetisi ini, peserta bergabung dalam tim untuk menjawab sejumlah pertanyaan seputar pengetahuan keislaman. Selain menguji wawasan dan kemampuan berpikir cepat serta tepat, lomba ini menjadi sarana belajar bekerja sama dan berkomunikasi.

 

Para santri dituntut mampu menghargai pendapat anggota tim, mengambil keputusan bersama, serta menjunjung sportivitas selama kompetisi berlangsung. Dengan demikian, aspek pengetahuan berjalan beriringan dengan pembentukan keterampilan sosial dan karakter peserta.

 

Lomba TPQ tidak semata-mata diarahkan untuk mencari juara. Lebih dari itu, keseluruhan proses, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, menjadi bagian dari pengalaman pendidikan bagi para santri.

 

Melalui kompetisi tersebut, anak-anak belajar berusaha secara sungguh-sungguh, menaati aturan, menghargai peserta lain, menerima hasil pertandingan dengan lapang dan sportif, serta bertanggung jawab atas proses belajar yang telah mereka jalani.

 

Antusiasme santri terlihat dari keterlibatan mereka dalam setiap cabang perlombaan. Kegiatan tersebut juga mendapat respons positif dari pengurus TPQ, wali santri, dan masyarakat Desa Sukosari.

 

Selain mendorong motivasi anak untuk semakin mencintai Al-Qur’an dan memperluas pengetahuan keagamaan, kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan antartaman pendidikan Al-Qur’an di Desa Sukosari.

 

Pelaksanaan Lomba TPQ juga menjadi bagian dari implementasi tema KKN STKIP PGRI Lumajang, yakni “Inovasi Pendidikan Berbasis Literasi dan Ecopreneurship dalam Mewujudkan Desa Cerdas, Mandiri, dan Berkelanjutan.”

 

Dalam konteks kegiatan tersebut, inovasi pendidikan dan literasi diwujudkan dengan menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga tumbuh melalui TPQ dan keterlibatan masyarakat desa.

 

Literasi yang dikembangkan pun tidak terbatas pada kemampuan membaca. Para santri juga diajak membangun pemahaman serta pembiasaan nilai-nilai keagamaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Mahasiswa KKN STKIP PGRI Lumajang berharap kegiatan tersebut dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan karakter anak di Desa Sukosari.

 

Nilai religius, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, percaya diri, kerja sama, dan sportivitas menjadi bagian penting yang diharapkan tumbuh dari pengalaman para santri selama mengikuti perlombaan.

 

Untuk menjaga kualitas pelaksanaan, setiap cabang lomba melibatkan dewan juri sesuai bidang masing-masing. Penilaian dilakukan dengan mengedepankan objektivitas dan transparansi. Para santri yang berhasil meraih prestasi di setiap cabang juga mendapatkan apresiasi sebagai bentuk penghargaan atas usaha, kemampuan, dan kedisiplinan mereka.

 

Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa KKN, pengelola TPQ, orang tua, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang positif bagi anak.

 

Melalui Lomba TPQ, Desa Sukosari tidak hanya menghadirkan sebuah kompetisi, tetapi juga membuka ruang belajar yang mempertemukan pendidikan, literasi keagamaan, karakter, dan kebersamaan.

 

Dari ruang-ruang TPQ dan semangat anak-anak untuk berprestasi, diharapkan tumbuh generasi Qur’ani yang tidak hanya mampu membaca, menghafal, dan memahami ajaran agama, tetapi juga memiliki karakter baik, percaya diri, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, serta menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari (Red).