Content: / /

Esensi Fungsi Puasa

Opini

26 Maret 2024
Esensi Fungsi Puasa

Abdul Wadud Nafis Pengasuh Ponpes Manarul Qur’an Kutorenon Kecamatan Sukodono Kab. Lumajang

Lumajang - Allah mewajibkan  kepada umat Islam agar berpuasa di bulan Ramadhan sebulan penuh, yaitu menahan diri tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hubungan suami istri sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan diniati berpuasa pada malam hari.

Puasa melatih orang-orang yang beriman tidak mengikuti dorongan nafsu makan di siang hari  untuk melatih menahan nafsu makan demi mengikuti ridho Allah, dengan latihan menahan diri tidak makan dan tidak minum di siang hari mampu menahan diri tidak makan harta haram dan makanan haram demi mengikuti ridho Allah, jika pada siang hari mampu tidak makan dan tidak minum karena takut batal puasanya,  maka dia akan mampu di waktu-waktu yang lain tidak makan makanan yang diharamkan oleh Allah karena takut mendapatkan murka dan azab dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Orang yang berpuasa menahan diri tidak melakukan hubungan suami istri sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari ini adalah bentuk latihan kepada orang-orang yang beriman, agar mampu menahan diri dari dorongan seks yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala di waktu-waktu yang lain, maka orang yang beriman yang belum menikah mampu menjaga pandangan matanya dan tidak melihat wanita yang bukan mahramnya, karena mengharapkan Ridha Allah subhanahu wa ta'ala dan orang yang sudah memiliki istri tidak melakukan hubungan seks selain dengan istrinya Karena mengharapkan cinta dan rahmat Allah.

Dengan demikian syariat puasa ini bukan sekedar berpuasa secara lahir, yaitu menghindari makan,  minum dan melakukan hubungan suami istri, tapi hakikatnya melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya semata-mata mengharapkan ridho Allah dan takut terhadap murkanya. Maka orang yang berpuasa yang  hanya tidak makan dan tidak minum, akan tetapi yang dilihat oleh matanya hal-hal yang haram,  hal-hal yang didengarkan oleh telinga suara yang haram,  yang dibicarakan oleh lidahnya,  hal-hal yang diharamkan yang,  dikerjakan oleh tangannya hal hal yang diharamkan dan kakinya melangkah pada tempat-tempat yang diharamkan serta hatinya penuh dengan rasa iri,  dengki,  sombong dan penyakit-penyakit hati yang lain, maka puasanya sia-sia dan tidak mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wa ta'ala,  tidak mendapatkan rahmat dari Allah subhanahu wa ta'ala dan puasanya tidak menjadi tameng dari api neraka. 

Rasulullah bersabda: 

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع

 وَالْعَطْش Artinya, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i)

Yang paling menarik dalam kehidupan nyata sebagian besar orang yang berpuasa hanya menahan diri tidak makan dan tidak minum dan tidak melakukan hubungan suami istri,  tapi sayangnya melakukan perbuatan dosa,  baik dikerjakan oleh hati maupun anggota badan yang dzahir.  oleh karena itu kita sebagai orang yang beriman hendaknya melaksanakan puasa yang membuat kita menjadi orang-orang yang betul-betul bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala yaitu,  melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya semata-mata mengharapkan ridho dari Allah subhanahu wa ta'ala, baik dalam kondisi sendirian maupun bersama-sama,  baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi. Wallahu a'lam bish shawab.(Red)

Penulis : Abdul Wadud Nafis Pengasuh Ponpes Manarul Qur’an Kutorenon Kecamatan Sukodono Kab. Lumajang

Facebook

Twitter

Redaksi