Tempursari - Budaya gotong royong terkadang sudah hilang, terlebih lagi di perkotaan. Namun, di Kecamatan Tempursari Kabupaten Lumajang budaya gotong royong saat warga punya hajat (pesta pernikaan dan lainnya), budaya gotong royong masih terjadi.
Tiga hari sebelum acara hajatan, warga biasanya gotong royong mengupas buah kelapa untuk dibuat kue. Kelapa menjadi bahan dasar membuat kue seperti dodol dan lainnya.
Baca juga: Lailatul Ijtima' Jadi Momentum Istimewa, Kader NU Lumajang Munajat Jelang Muktamar ke-35
Kaum laki-laki bersama-sama mengupas kelapa dan kaum perempuannya akan memarut kelapa yang sudah dikupas. Setelah selesai, santannya akan dibuat dodol dan bahan dasar kue lainnya.
Baca juga: Lailatul Ijtima' NU Lumajang, Tradisi yang Terus Hidup dari Cabang hingga Ranting
"Alhamdulillah, di desa kami Purorejo budaya gotong royong masih terjaga," ujar Muzani, Sekdes Purorejo Kecamatan Tempursari, Rabu (10/03/2021).
Gotong royong juga berlanjut hingga saat hari H-nya, dimana para tetangga datang untuk membantu (sinoman). Kekompakan itu yang hingga kini yang masih terjadi di pedesaan termasuk di Kecamatan Tempursari.
Baca juga: Tekan Angka Kecelakaan, Satlantas Polres Lumajang Turun ke Jalan Sasar Sopir Truk
"Semoga budaya asli Indonesia ini tetap terjaga, meski eranya sudah modern, tapi budaya leluhur tetap terjaga," pungkasnya.(Yd/red)
Editor : Redaksi