Pangkalan LPG Ditutup
Bupati Mengamuk! Pangkalan LPG Curang Digulung Tanpa Ampun
Lumajang – Aroma pelanggaran itu akhirnya tak lagi bisa disembunyikan. Di tengah jeritan warga yang kesulitan mendapatkan gas melon, sebuah operasi mendadak digelar. Hasilnya mengejutkan praktik nakal yang selama ini hanya jadi bisik-bisik, kini tersibak terang di hadapan publik.
Dipimpin langsung oleh Bupati Lumajang Indah Amperawati melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sebuah pangkalan LPG di Desa Jarit, sekitar pukul 11.00 WIB. Tak butuh waktu lama, keputusan tegas langsung dijatuhkan: pangkalan milik Pak Bagong resmi ditutup.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa hari terakhir, warga dibuat resah oleh kelangkaan LPG 3 kg. Gas subsidi yang seharusnya mudah diakses justru menghilang dari peredaran. Kalaupun ada, harganya melambung liar hingga menyentuh angka Rp30.000 per tabung, sebuah angka yang menampar logika subsidi pemerintah.
Namun, drama sesungguhnya baru dimulai saat sidak dilakukan.
Di lokasi, tim menemukan fakta yang mencengangkan. Pangkalan yang seharusnya hanya menyalurkan sekitar 100 tabung, justru menyimpan stok hingga lebih dari 1.000 tabung LPG. Sebuah angka yang tak sekadar janggal, tapi juga mengindikasikan adanya permainan sistematis.
Tak berhenti di situ, dugaan pelanggaran semakin menguat ketika ditemukan praktik ilegal: pemindahan isi LPG 3 kg ke dalam tabung non-subsidi 12 kg. Sebuah modus yang bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga merampas hak masyarakat kecil yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama.
Suasana di lokasi pun berubah tegang. Warga yang mengetahui penggerebekan itu mulai berdatangan, sebagian geram, sebagian lainnya hanya bisa geleng kepala menyaksikan fakta pahit yang selama ini mereka rasakan.
Di tengah situasi tersebut, Indah Amperawati berdiri tegak, menyampaikan pesan keras tanpa kompromi.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Saya tidak akan mentolerir siapapun yang bermain-main dengan hak rakyat. Siapapun yang mendzolimi masyarakat, pasti akan kami tindak tegas,” ujarnya dengan nada penuh tekanan Sabtu, (11/4/2026).
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Penutupan pangkalan menjadi bukti bahwa pemerintah daerah tak lagi memberi ruang bagi praktik curang dalam distribusi LPG subsidi.
Pihak terkait, mulai dari SPBE hingga agen dan pangkalan, kini berada dalam sorotan tajam. Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui bagian perekonomian memastikan pengawasan akan diperketat. Setiap celah penyimpangan akan diburu, setiap pelanggaran akan disikat tanpa ampun.
Kasus di Desa Jarit menjadi alarm keras bahwa di balik kelangkaan yang dirasakan masyarakat, ada tangan-tangan yang mencoba mengambil keuntungan di atas penderitaan rakyat.
Dan hari ini, satu pangkalan telah tumbang. Namun pertanyaannya, berapa lagi yang masih bersembunyi dalam bayang-bayang?
Editor : Redaksi