Lumajang (lumajangsatu.com) - Bagi warga Pasirian, karangan sampir (jenis kerang) sudah tidak asing lagi. Kerang ini muncul saat musim kemarau di pantai selatan mulai Watu Pecak hingga pantai Bambang.
Saat air laur surut, warga mencari karangan sampir, baik untuk dikonsumsi sendiri atau dijual. Karena harganya mahal, karangan sampir tidak sampai tumbuh besar, karena sudah diambil oleh warga sekitar.
Baca juga: Dukung Peningkatan IPM dan RLS, Fraksi PDI Perjuangan Lumajang Gagas Beasiswa Gotong Royong
"Yang enak karangan sampir di Watu Pecak. Kalau dibuat kuah rasanya lezat sekali," ujar Fadli salah seorang warga Selok, Selasa (01/10/2019).
Baca juga: PDI Perjuangan Lumajang Rilis Kinerja Fraksi DPRD Selama Tahun 2025
Karangan sampir dimasak dijadikan kuah. Karangan sampir Harganya terbilang mahal, sekitar 5 ribu perbungkus dengan 1/4 kg dan masih mentah. "Kalau dulu tidak mahal, sekrang banyak yang suka, jadi karangan Sampir sudah mahal," tuturnya.
Baca juga: Soroti Implementasi Perbup Pertambangan, DPRD Terima Audiensi PC PMII Lumajang
Setiap kali air patai surut banyak sekali warga yang datang untuk mencari karangan samper. Pantai selatan Watu Pecak juga ramai dengan pedagang Karangan Samper yang langsung membeli dari warga.(Yd/red)
Editor : Redaksi