Lumajang - Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) di Kabupaten Lumajang masih dianggap amburadul. Oleh karena itu, Komisi D DPRD Lumajang dalam pembahasan APBD TA 2025 menganggarkan sekitar 500 juta bagi Dinas Sosial, Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-P3A) untuk melakukan perbaikan DTKS.
“Kita anggaran kurang lebih 500 juta untuk memperbaiki DTKS tersebut,” jelas Supratman SH, ketua Komisi D DPRD Lumajang kepada Lumajangsatu.com, Kamis (05/12/2024).
Baca juga: Dari Lumajang untuk Cina: Cara Darrel Mengenalkan Pesona Tumpak Sewu ke Dunia
Masyarakat Lumajang bisa menerima bantuan sosial harus masuk dalam DTKS. Jika DTKS tidak akuran, maka akan banyak bantuan sosial yang tidak tepat sasaran dan masyarakat yang seharusnya menerima bansos malah tidak menerima bantuan karena tidak masuk dalam DTKS.
Baca juga: Kemkomdigi Ajak Pemuda Lumajang Jadi Duta Digital Lawan Hoaks
“DTKS ini salah satu hukum yang wajib dipenuhi untuk menerima bansos,” papar politisi PDI Perjuangan itu.
DPRD Lumajang mendorong evaluasi total pada data yang masuk DTKS, agar bansos bisa tepat sasaran. Tak hanya soal DTKS, Komisi D DPRD Lumajang juga mendorong Pemerintah Lumajang memiliki rumah singgah, agar bisa menampung fakir miskin dan orang terlantar. Sebab, negara wajib menampung fakir miskin dan orang terlantar.
“Kita juga mengusulkan agar Pemerintah Lumajang memiliki rumah singgah, agar bisa menampung orang-orang terlantar seperti ODGJ. Jadi sebelum dikirim ke rumah sakit, bisa ditampung di rumah singgah terlebih dahulu,” pungkasnya.(Yd/red)
Editor : Redaksi